Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Prospek Investasi Saham & Obligasi usai Rilis Data PDB RI

Investor perlu menyiapkan strategi investasi di instrumen saham dan obligasi usai Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data PDB RI kuartal I/2024.
Investor perlu menyiapkan strategi investasi di instrumen saham dan obligasi usai Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data PDB RI kuartal I/2024. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Investor perlu menyiapkan strategi investasi di instrumen saham dan obligasi usai Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data PDB RI kuartal I/2024. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal I/2024 pada Senin (6/5/2024). Investor perlu mengatur strategi investasi di instrumen saham dan obligasi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2024 tercatat mencapai 5,11% (year-on-year/YoY). Capaian produk domestik bruto (PDB) kuartal I/2024 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya terkontraksi 0,83%.

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto mengatakan, data PDB tersebut di atas rata-rata konsensus di angka 5,1%. Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut masih di bawah ekspektasi dari Mirae Asset Sekuritas di angka 5,4%.

Lebih lanjut dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi akan lebih berpengaruh terhadap instrumen saham dibandingkan obligasi. Sebab, instrumen obligasi lebih dipengaruhi oleh tingkat suku bunga.

"Kalau kita lihat lagi secara komponen apa saja yang mendorong pertumbuhan ekonomi, mungkin konsumsi rumah tangga ke depan belum tumbuh terlalu tinggi. Sehingga pertumbuhan PDB akan lebih berpengaruh ke saham dan berdampak langsung ke kinerja emiten," ujar Rully saat ditemui di kantornya, Senin (6/5/2024).

Sementara itu, di pasar obligasi saat ini investor asing masih dominan di tenor jangka menengah. Pasar surat utang juga masih bergantung terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS), dan ekspektasi pemangkasan suku bunga juga akan sangat berpengaruh.

"Setelah rilis data PDB RI, mungkin kalau dari market itu investor perlu lebih banyak mengamati data-data bulanan di Amerika seperti inflasi, dan non-farm payroll [NFP]. Kalau sentimen dari domestik belum ada lagi," jelasnya.

Rully pun memprediksi Bank Sentral AS The Fed dan Bank Indonesia (BI) akan memangkas suku bunga sebanyak dua hingga tiga kali sampai akhir 2024. Perlu diketahui, The Fed masih menahan suku bunga di kisaran 5,25%-5,5%, sedangkan BI menaikkan suku bunga ke level 6,25%.

Community & Retail Equity Analyst Lead Indo Premier Sekuritas Angga Septianus menambahkan, setelah rilis data PDB RI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko melemah pada pekan ini.

Saat ini IHSG sedang menguji support MA200 daily yang berada di level 7.050, apabila tidak mampu bertahan maka IHSG berpotensi untuk terus turun ke 6.800 hingga 6.900.

"Level 7.030 menjadi support yang sudah diuji berkali-kali ketika IHSG mengalami koreksi, sedangkan resisten berada di level 7.250. Sehingga area tersebut menjadi support dan resisten IHSG dalam jangka pendek," jelas Angga kepada Bisnis.

_________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper