Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Komoditas (17/4): Emas hingga Batu Bara Fluktuatif di Tengah Tensi Iran-Israel

Harga komoditas emas, CPO, dan batu bara bergerak variatif di tengah sentimen ketegangan Iran-Israel dan sentimen ekonomi AS.
Bongkahan emas seberat 12,5 kilogram yang berada di kilang logam mulia, Swiss. - Bloomberg/Stefan Wermuth
Bongkahan emas seberat 12,5 kilogram yang berada di kilang logam mulia, Swiss. - Bloomberg/Stefan Wermuth

Bisnis.com, JAKARTA – Harga sejumlah komoditas seperti emas, batu bara, dan CPO mengalami fluktuasi di tengah tensi konflik Iran – Israel.

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara kontrak April 2024 di ICE Newcastle ditutup melemah 0,39% ke level US$129,25 per metrik ton pada perdagangan Selasa (16/4/2024).

Sementara itu, batu bara kontrak Mei 2024 juga melemah 0,07% ke US$136,4 per metrik ton, sedangkan kontrak Juni 2024 ditutup menguat tipis.

Melansir Reuters, data Biro Statistik Nasional China mencatat output batu bara turun 4,2% pada Maret 2024 di tengah kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan.

China memproduksi 399,33 juta metrik ton batu bara bulan lalu. Hal ini membuat produksi pada kuartal I/2024 menjadi 1,11 miliar ton, turun 4,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lal (year-on-year/yoy).

Sebelumnya, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China melaporkan akan membangun lebih banyak tambang batu bara dalam upaya untuk meningkatkan pasokan domestik dan untuk meredam kenaikan harga,

Melansir Bloomberg, China menargetkan untuk menambah sekitar 300 juta ton kapasitas tambang tahunan untuk "cadangan penyimpanan darurat" pada tahun 2030. Para penambang yang memenuhi syarat akan didorong untuk menyisihkan sebanyak 30% dari kapasitas baru tersebut sebagai cadangan untuk membatasi lonjakan harga.

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut konflik yang terjadi antara Iran dengan timur tengah tidak terlalu terhadap harga batu bara.

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara, Irwandy Arif mengatakan dampak dari ketegangan di timur tengah hanya dirasakan komoditas minyak.

“Oh enggak itu menyangkut minyak, batu bara masih turun lah, saya kira naik turun,” kata Irwandy saat ditemui di Kementerian ESDM, Selasa (16/4/2024).

Meski tidak terlalu berpengaruh terhadap harga batu bara, Irwandy menyebut jika eskalasi terus naik, kemungkinan naiknya harga batu bara akan terjadi.

Namun, yang jelas saat ini kata Irwandy harga batu bara masih naik turun sesuai dengan siklus yang terjadi di pasar global.

“Masih naik turun (harga batu bara) berapa sen, kadang naik ada kan statistiknya,” ujarnya.

Harga Emas

Sementara itu, harga emas bergerak melemah pada awal perdagangan Rabu (17/4/2024), setelah ditutup menguat tipis pata perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau melemah 0,06% ke level US$2.381,54 per troy ounce pada pukul 07.23 WIB. Harga emas spot ditutup menguat 0,5% ke US$23.394,81 per troy ounce pada perdagangan Selasa.

Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan pasar sedang wait and see terhadap perkembangan terbaru dalam ketegangan antara Iran dan Israel setelah Iran menyerang wilayah Israel dengan rudal dan drone akhir pekan lalu.

"Jika konflik Timur Tengah mereda, fokus pasar akan beralih ke the Fed. Telah menjadi jelas bahwa The Fed tidak akan dapat menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, yang merupakan elemen bearish untuk pasar emas dan perak,” ungkap Wyckoff seperti dikutip Reuters.

Sebelumnya, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan kepada panel Senat AS bahwa The Fed hampir mendapatkan kepercayaan diri dalam inflasi yang turun ke tingkat yang diperlukan untuk menurunkan suku bunga. Tetapi tetapi para pembuat kebijakan, investor, dan analis luar telah kehilangan sedikit kepercayaan pada prospek tersebut sehubungan dengan serangkaian data ekonomi yang kuat.

Deutsche Bank memperkirakan harga emas di US$2.400 pada akhir tahun dan US$2.600 pada Desember 2025.

"Kami pikir emas kemungkinan akan tetap pada pijakan yang kuat karena setiap aksi ambil untung oleh investor awal akan digantikan oleh investasi dari mereka yang sejauh ini tidak berpartisipasi dalam gerakan ini, tetapi secara filosofis setuju dengan arahnya," ungkap Deutsche Bank dalam catatannya.

CPO

Sementara itu, harga komoditas minyak kelapa sawit atau CPO berjangka kontrak Juli 2024 menguat 0,22% ke 4.083 ringgit per ton di Bursa derivatif Malaysia. Adapun kontrak Juni 2024 ditutup menguat 0,24% ke US$4.144 ringgit per ton.

Melansir The Sun, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) mencatat stok minyak kelapa sawit Malaysia turun 10,68% menjadi 1,71 juta ton pada Maret dari 1,92 juta ton pada Februari.

Dalam laporan kinerja industri untuk bulan Maret 2024, MPOB mengatakan bahwa stok minyak kelapa sawit mentah (CPO) turun 22,22% menjadi 797.974 ton di bulan Maret dari 1,03 juta ton di bulan Februari.

Sementara itu, stok minyak sawit olahan meningkat 2,56% menjadi 916.999 ton di bulan Maret dari sebelumnya 894.131 ton, kata MPOB.

Mengenai ekspor, MPOB mengatakan bahwa ekspor minyak kelapa sawit naik 28,61% menjadi 1,32 juta ton pada Maret dari 1,02 juta ton pada Februari, tetapi ekspor biodiesel turun 46,13% menjadi 15.825 ton di bulan Maret dari 29.378 ton pada Februari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper