Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham-saham Berisiko Boncos Akibat Ambruknya Rupiah ke 16.175

Analis memperkirakan terdapat sejumlah emiten yang bakal dirugikan dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dionisio Damara Tonce, Rizqi Rajendra
Rabu, 17 April 2024 | 06:00
Analis memperkirakan terdapat sejumlah emiten yang bakal dirugikan dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Bisnis/Suselo Jati
Analis memperkirakan terdapat sejumlah emiten yang bakal dirugikan dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA — Ambruknya rupiah menuju level psikologis Rp16.100 menjelma sebagai sentimen negatif bagi sejumlah saham yang sensitif terhadap nilai tukar.

Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (16/4/2024), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 327,50 poin atau 2,07% menuju level Rp16.175,5 atau meninggalkan level Rp16.200 saat pembukaan pasar.

Perihal melemahnya rupiah, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Vicky Rosalinda mengatakan bahwa terdapat beberapa emiten yang akan dirugikan dari pelemahan rupiah.

Salah satunya emiten properti yang memiliki utang dalam bentuk dolar AS, seperti PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN), PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI), dan PT Modernland Realty Tbk. (MDLN).

“Ada juga emiten otomotif seperti PT Astra International Tbk. [ASII] dan emiten farmasi yakni PT Kalbe Farma Tbk. [KLBF] dan PT Kimia Farma Tbk. [KAEF],” ujar Rosalinda saat dihubungi Bisnis pada Selasa (16/4/2024).

Dia menyebutkan bahwa pelemahan rupiah juga sejalan dengan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang disebabkan oleh sentimen global dan domestik.

Dari sisi global, rilis data ekonomi AS yang melampaui ekspektasi pasar mengakibatkan ketidakpastian terkait kapan The Fed menurunkan suku bunga acuan. Hal ini menyebabkan pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga yang lebih sedikit pada 2024.

Selain itu, pelemahan IHSG juga tidak terlepas dari faktor geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas setelah Iran meluncurkan drone dan rudal ke Israel. Apalagi, Tel Aviv telah menyatakan bakal melakukan pembalasan terhadap serangan Iran.

“Kondisi ini menjadi kekhawatiran besar pada pasar keuangan global. dampak serangan tersebut juga berimbas pada penerbangan, harga komoditas, hingga inflasi global,” kata Rosalinda.

Sementara itu, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan salah satu penyebab penguatan indeks dolar adalah karena menguatnya data ekonomi AS, salah satunya data penjualan ritel yang naik 0,7% dari bulan lalu.

Di sisi lain, lanjut dia, inflasi AS yang masih cukup tinggi membuat Bank Sentral Amerika Federal Reserve ragu-ragu mengambil langkah untuk menurunkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga.

Ibrahim memperkirakan The Fed bisa saja menaikkan suku bunga karena eskalasi konflik yang tinggi di timur tengah.

Di sisi lain, kata dia, komentar dari pejabat The Fed yang mengatakan kemungkinan besar The Fed tidak akan menurunkan suku bunga di semester II/2024 atau hanya menurunkan 25 bps membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan.

Dari Timur Tengah, lanjut Ibrahim, Kementerian Perang di Israel memberikan pernyataan di akhir pekan Israel akan melakukan serangan balik ke Iran. Ibrahim memperkirakan hal ini membuat indeks dolar akan menuju 110-112, yang merupakan level tertinggi sepanjang masa yang ditakutkan pasar.

"Dampaknya apa ke Indonesia? Ini akan membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan sampai US$100 per barrel dan ini akan membuat impor minyak Indonesia membengkak. Indonesia adalah salah satu importir minyak mentah terbesar di Asia," kata Ibrahim, Selasa (16/4/2024).

Dampak kedua, kata Ibrahim, intervensi BI di pasar DNDF kemungkinan besar tidak akan cukup kuat menahan laju pelemahan rupiah, sehingga di akhir bulan ini BI harus menaikkan suku bunga 25 bps untuk menstabilkan rupiah.

Dalam perkembangan lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, usai pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, menyatakan bank sentral akan terus mengawasi perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menurutnya, kepastian dalam menjaga nilai tukar rupiah akan ditempuh melalui sejumlah skema baik di pasar spot atau pembelian secara tunai maupun non-delivery forward (NDF).

“Kami akan memastikan nilai tukar akan terjaga, kami lakukan intervensi baik melalui spot maupun NFD. Kami jajakan koordinasi dengan pemerintah dengan fiskal bagaimana jaga moneter dan fiskal. Kami pastikan kami di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi,” tuturnya.

IHSG
IHSG

IHSG Juga Tertekan

Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan, IHSG masih akan cenderung tertekan dalam beberapa waktu ke depan dan saat ini pelaku pasar pun masih mewaspadai tensi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.

"Jika terjadi serangan balik dari Israel maka dampaknya terhadap pasar akan jauh lebih besar, sehingga investor disarankan wait and see sambil menantikan perkembangan dalam waktu dekat," ujar Audi kepada Bisnis, Selasa (16/4/2024).

Adapun, peningkatan tensi politik antara negara-negara Timur Tengah terjadi pasca serangan lebih dari 300 drone dan rudal oleh Iran ke Israel pada Sabtu (13/4/2024) waktu setempat.

"Untuk rentang level IHSG kami perkirakan akan bergerak dalam support 7.100 dan resistance 7.300," sambungnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pasca rilis data inflasi AS yang di atas ekspektasi pasar pada pekan lalu, potensi pemangkasan suku bunga The Fed menurun hanya menjadi dua kali, atau di bawah ekspektasi pasar sebelumnya pada tahun ini. Dampaknya, dalam jangka panjang berpotensi akan menggerus daya beli masyarakat dan melambatkan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, investor akan mengalihkan investasi pada aset yang berisiko rendah (low risk) sehingga dapat memberikan sentimen negatif untuk pasar saham.

"Ditambah dengan sentimen tersebut, membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin melemah, sehingga memungkinkan Bank Indonesia untuk kembali mengetatkan kebijakan moneter dalam negeri," pungkas Audi.

IHSG terpantau merosot 1,68% atau 122,07 poin menjadi 7.164,80 pada akhir perdagangan Selasa (16/4/2024). Sepanjang sesi, indeks komposit bergerak di rentang 7.066-7.285.

Pada saat yang sama, sejumlah saham di Bursa Asia lainnya juga melemah. Misalnya, Hang Seng Index Hongkong (HSI) ambles 2,12%, diikuti Shanghai Composite Index (SSEC) turun 1,65%, dan Straits Times Index Singapura (STI) melemah 0,98%. Sementara itu Nikkei 225 Index Tokyo (N225) stagnan.

Equity Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan pelemahan IHSG pada perdagangan kemarinn mayoritas disebabkan sentimen negatif dari tensi geopolitik Timur Tengah.

Namun, selain itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan terjadi kenaikan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net di level 0,82% periode Februari 2024, naik dari bulan sebelumnya di angka 0,79%.

"Lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga melemah tajam pada perdagangan hari ini, menyentuh level Rp16.201 per dolar AS," pungkas Felix kepada Bisnis.

___________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper