Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham Apple dan Tesla Melorot Imbas Tensi Panas Iran dan Israel

Saham-saham Wall Street seperti Apple dan Tesla ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Selasa pagi, (16/4/2024)
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Saham-saham Wall Street seperti Apple dan Tesla ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Selasa pagi, (16/4/2024). Penurunan terjadi karena kenaikan awal dari laporan penjualan ritel yang kuat memberi jalan bagi lonjakan imbal hasil Treasury dan kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel.

S&P 500 (.SPX) kehilangan 61,79 poin, atau 1,21% berakhir pada 5,061.62 poin, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) kehilangan 289,93 poin atau 1,79% menjadi 15,885.17. Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 250,63 poin atau 0,66% menjadi 37.735,24.

Adapun 11 sektor utama S&P melemah, dengan sektor real estate yang sensitif terhadap suku bunga (.SPLRCR), dan utilitas (.SPLRCU), keduanya turun lebih dari 1%.

S&P 500 mengalami penurunan selama dua minggu berturut-turut dan persentase penurunan mingguan terbesar sejak Oktober pekan lalu karena investor telah memundurkan ekspektasi mengenai waktu dan ukuran penurunan suku bunga dari Federal Reserve.

Saham Apple (AAPL.O), jatuh sebagai salah satu hambatan terbesar pada S&P 500 setelah data dari firma riset IDC menunjukkan pengiriman ponsel pintar perusahaan turun sekitar 10% pada kuartal pertama tahun 2024.

Saham Tesla (TSLA.O), merosot setelah pembuat kendaraan listrik itu mengatakan akan memberhentikan lebih dari 10% tenaga kerja globalnya, menurut memo internal yang dilihat oleh Reuters.

Salesforce (CRM.N), tersandung setelah Reuters melaporkan, mengutip sebuah sumber, bahwa pembuat perangkat lunak hubungan pelanggan sedang dalam pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi Informatica (INFA.N).

"Anda melihat sedikit kenaikan pagi ini karena mungkin orang berpikir 'OK, sahamnya dijual pada hari Jumat' untuk mengantisipasi sesuatu yang sangat buruk terjadi di Timur Tengah," kata Ken Polcari, Managing Partner di Kace Capital Advisors di Boca Raton dikutip dari Reuters.

Menurutnya Semua masalah geopolitik akan menimbulkan ketegangan dan kecemasan di pasar, dan memicu kesadaran bahwa suku bunga tidak akan turun dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper