Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Perbaikan Operasional Garuda Indonesia (GIAA), Bikin Analis Kerek Target Pendapatan 2024

Sejumlah analis menilai PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) telah melakukan efisiensi dari segi operasional pada 2023.
Pesawat maskapai Garuda Indonesia berada di apron Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (27/7/2023). - Bisnis/Paulus Tandi Bone
Pesawat maskapai Garuda Indonesia berada di apron Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (27/7/2023). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah analis menilai PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) telah melakukan efisiensi dari segi operasional pada 2023. Kiwoom Sekuritas memperkirakan pendapatan GIAA bisa naik menjadi US$4,2 miliar pada 2024.

Analis Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda mengatakan Garuda Indonesia sudah on the track meraih profitabilitas. Dia memperkirakan pada 2024, keuntungan Garuda diprediksi US$580 juta tahun ini.

“Pendapatan diperkirakan ikut naik hingga 40% menjadi US$4,2 miliar dari. Kami merekomendasikan investor untuk untuk wait and see saham Garuda," ujarnya.

Di sisi lain, dia menegaskan, momentum lebaran diharapkan mampu meningkatkan pendapatan Garuda. Hal ini juga dimanfaatkan perseroan dengan menyiapkan kursi tambahan dan juga diskon selama libur lebaran.

"Perseroan juga mencatakan perbaikan operasional bisa membantu menghasilkan keuntungan, meski dinilai tidak signifikan," ungkap Vicky dalam riset, Jumat (5/4/2024).

Sementara itu, Analis Sinar Mas Sekuritas Isfhan Helmy mengungkapkan maskapai plat merah itu dapat menurunkan biaya non bahan bakar. GIAA tercatat mampu menekan biaya general & administrative (G&A) hingga 25% selama 2023 menjadi US$177 juta, sementara biaya pemeliharaan juga turun sedikit sebesar 5% menjadi US$387 juta pada 2023.

Adapun, penurunan terbesar dalam G&A adalah biaya layanan profesional yang turun 86% menjadi US$15 juta pada tahun 2023.

“EBITDA melampaui ekspektasi kami pada run-rate 105%, yaitu sebesar US$310 juta, dibandingkan ekspektasi kami sebesar US$295 juta. Meskipun total pendapatan sedikit lebih rendah dari ekspektasi kami yaitu sebesar 98% atau sebesar US$2,9 miliar, penghematan besar terjadi pada biaya non-bahan bakar yang turun sebesar 5% YoY dan hanya mencapai 93% dari ekspektasi kami,” katanya dalam riset.

Di sisi lain, skema sewa pesawat yang dijalankan pasca pandemi juga menguntungkan karena pembiayaan pesawat dihitung berdasarkan jam terbang. Hal ini, lanjutnya, menguntungkan Garuda Indonesia karena dicapai dengan hanya separuh dari jumlah armada sebelum pandemi.

Isfhan menambahkan, peningkatan angka keuangan Garuda Indonesia tahun ini akan membawa katalis baru. Pasalnya Dengan kelipatan EV/EBITDAR saat ini sebesar 1,3x jauh di bawah maskapai sejenis di kawasan dengan layanan lengkap seperti Singapore Airlines yang saat ini beroperasi mendekati 2,5x EV/EBITDAR.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper