Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Lesu saat Mata Uang Asia Menguat terhadap Dolar AS

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS saat mata uang Asia lainnya menguat.
Karyawan menunjukan uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.791 di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (25/3/2024). Pelemahan rupiah terjadi saat mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS. 

Mengutip data Bloomberg pukul 09.05 WIB, mata uang rupiah dibuka melemah 0,05% atau 8 poin ke level Rp15.791 per dolar AS. Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau turun 0,08% ke posisi 103,34.   

Pada pagi ini, mayoritas mata uang kawasan Asia masih kebal terhadap dolar AS. Misalnya, yen Jepang naik 0,13%, dolar Hongkong naik 0,03%, dolar Singapura menguat 0,16%, dolar Taiwan menguat 0,12%.

Selanjutnya, yuan China terapresiasi 0,43%, ringgit Malaysia naik 0,17%, dan baht Thailand naik 0,23%. Mata uang Asia yang lesu terhadap dolar AS yakni won Korea dan peso Filipina melemah tipis masing-masing 0,01% dan 0,02%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan hari ini mata uang rupiah diprediksi fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp15.770 hingga Rp15.850 per dolar AS.

Ibrahim mengatakan, dolar AS menguat pada level tertingginya dalam 3 minggu karena penurunan suku bunga Swiss National Bank (SNB) membayangi prospek The Fed. Kedua indikator dolar melonjak pada Kamis setelah SNB secara tak terduga memangkas suku bunga 25 bps ke level 1,50%.

Lebih lanjut dia mengatakan, penentu suku bunga Bank of England (BoE) memberikan suara 8-1 untuk mempertahankan biaya pinjaman pada level tertinggi dalam 16 tahun sebesar 5,25% karena dua pejabat yang sebelumnya menyerukan suku bunga lebih tinggi mengubah sikap mereka.  

Sementara itu, Bank Sentral AS The Fed secara tajam meningkatkan prospek pertumbuhannya pada 2024. Meskipun bank sentral diperkirakan masih akan mulai menurunkan suku bunga pada Juni 2024, sikapnya yang relatif hawkish, dibandingkan dengan bank sentral lainnya, diperkirakan akan menguntungkan dolar AS. 

Di lain sisi, katanya, para pejabat tinggi People's Bank of China (PBOC) mengisyaratkan bahwa mereka masih memiliki lebih banyak ruang untuk memotong rasio persyaratan cadangan bank, yang akan membuka lebih banyak likuiditas dalam perekonomian. 

"Namun langkah seperti itu menjadi pertanda buruk bagi perekonomian China dan adanya potensi sanksi AS yang lebih besar," ujar Ibrahim dalam riset Jumat (22/3/2024). 

Sementara itu dari sentimen dalam negeri, kegiatan investasi pasca-Pemilu 2024 sudah mulai meningkat dan investor sudah tak lagi wait and see, terutama pada perusahaan-perusahaan yang mempunyai suatu kegiatan ekonomi, kegiatan bisnis yang terus meningkat, dan penjualan mulai tinggi. 

Selain itu, Ibrahim mengatakan sektor ekspor yang berkaitan dengan hilirisasi maupun minerba juga terus meningkat. Sehingga, pertumbuhan ekonomi 2024 diyakini masih  di rentang 4,7%-5,5% atau titik tengahnya di 5,1%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper