Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

The Fed Kembali Tahan Suku Bunga Acuan, Harga Emas Menguat

Tak lama setelah perdagangan emas ditutup, pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuannya.
Ilustrasi emas global/Pexels.
Ilustrasi emas global/Pexels.

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange menguat pada penutupan perdagangan Rabu (20/3/2024), menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April naik 1,30 dolar AS atau 0,06 persen, menjadi ditutup pada 2.161,00 dolar AS per ounce.

Tak lama setelah perdagangan emas ditutup, pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berakhir dengan sebuah pengumuman, yang mengindikasikan bahwa Federal Reserve mempertahankan suku bunganya tidak berubah karena tetap sangat memperhatikan risiko inflasi dengan prospek ekonomi yang tidak menentu.

The Fed memperkirakan tidak tepat untuk menurunkan suku bunga sampai mereka memperoleh keyakinan yang lebih besar bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan menuju angka 2%.

“Dalam mempertimbangkan penyesuaian terhadap kisaran target suku bunga dana federal, Komite akan secara hati-hati menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko,” kata pengumuman itu.

Keputusan suku bunga The Fed sejalan dengan ekspektasi pasar. Emas terus naik setelah pengumuman tersebut.

Perak untuk pengiriman Mei turun 3,10 sen atau 0,12 persen menjadi ditutup pada 25,104 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April turun 1,70 dolar AS atau 0,19 persen menjadi ditutup pada 899,40 dolar AS per ounce.

Untuk diketahui, The Fed memutuskan mempertahankan kisaran target suku bunga acuan federal fund rate (FFR) pada level 5,25% - 5,5%.

Meskipun demikian, para pengambil kebijakan mengindikasikan pemangkasan suku bunga pada akhir 2024.

"Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga acuan federal fund rate pada 5,25% hingga 5,5% persen dengan tetap mempertimbangkan penyesuaian apa pun. Komite akan menilai dengan cermat data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko," ujar Ketua The Fed, Jerome Powell dalam pernyataan usai pertemuan seperti dikutip dari FOMC, Rabu (21/3/2024).

Powell mengatakan salah satu pertimbangan menahan suku bunga ialah karena The Fed menilai tidak tepat untuk menurunkan suku buga acuan FFR sampai adanya keyakinan yang lebih besar bahwa inflasi bergerak mendekati target 2 persen.

"Dalam menilai sikap kebijakan moneter yang tepat, Komite akan terus memantau implikasi informasi yang masuk terhadap prospek perekonomian," ujarnya.

Powell juga menegaskan bahwa The Fed siap untuk menyesuaikan sikap kebijakan moneter jika muncul risiko yang dapat menghambat pencapaian target dengan mempertimbangkan berbagai informasi, termasuk kondisi pasar tenaga kerja, tekanan inflasi dan ekspektasi inflasi, serta perkembangan keuangan dan internasional.

Kebijakan baru The Fed ini menggambarkan inflasi masih berpotensi "meningkat" dan proyeksi ekonomi triwulanan yang diperbarui menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi tidak termasuk makanan dan energi meningkat sebesar 2,6% pada akhir tahun, dibandingkan dengan 2,4% dalam proyeksi yang dikeluarkan pada bulan Desember.

Namun demikian, 10 dari 19 pejabat The Fed masih melihat potensi penurunan suku bunga acuan FFR pada akhir tahun ini.

The Fed memulai siklus pengetatan kebijakan moneter yang agresif dua tahun lalu sebagai respons terhadap lonjakan inflasi yang pada akhirnya akan mencapai puncaknya dalam 40 tahun, tapi tetap mempertahankan suku bunga kebijakannya pada kisaran 5,25% - 5,50% sejak bulan Juli lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Ibad Durrohman
Sumber : Reuters, Xinhua
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper