Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Strategi Menyeimbangkan Portofolio Investasi Saham, Emas, hingga Bitcoin

Investor perlu melakukan penyeimbangan portofolio investasi guna mengoptimalkan kinerja dari masing-masing instrumen.
Pengertian dividen dan setiap jenisnya./Freepik
Pengertian dividen dan setiap jenisnya./Freepik

Bisnis.com, JAKARTA – Strategi menyeimbangkan portofolio investasi, seperti saham, emas, bitcoin, dan obligasi perlu dilakukan investor guna mengoptimalkan kinerja dari tiap instrumen.   

CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menyatakan bahwa strategi diversifikasi aset tergantung pada masing-masing investor. Pasalnya, setiap investor memiliki tujuan investasi, profil risiko, dan jangka waktu berinvestasi yang berbeda-beda.

Namun, dia menegaskan diversifikasi aset merupakan kunci untuk mengoptimalkan kinerja portofolio. Untuk itu, investor dapat menyusun alokasi seimbang antara emas, saham, bitcoin, dan aset pendapatan tetap tergantung profil risiko dan tujuan investasi.

“Selain itu, penggunaan instrumen-instrumen investasi lainnya seperti reksadana, Exchange Traded Fund [ETF], atau aset lain yang berkorelasi rendah dapat membantu mengurangi risiko portofolio,” ujarnya kepada Bisnis dikutip pada Sabtu (15/3/2024).

Terkait emas, Guntur menyampaikan ketidakpastian geopolitik dan ketegangan ekonomi global membuat kinerja emas cenderung stabil, bahkan menguat dalam jangka pendek mengingat perannya sebagai aset safe haven. Namun, investor juga perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti kebijakan moneter global dan performa dolar AS.

Untuk saham, dia mengatakan bahwa meski terjadi fluktuasi, prospek kinerja pasar saham dalam jangka panjang cenderung positif. Terutama adanya sinyal penurunan suku bunga acuan, yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan kinerja perusahaan.

Untuk potensi kinerja Bitcoin, seiring meningkatnya minat investor, adopsi institusional, faktor peningkatan regulasi, dan adaptasi teknologi blockchain, prospek kinerja Bitcoin dapat tetap kuat dalam jangka panjang, Meski demikian, ada kemungkinan terjadi volatilitas yang signifikan.

“Dan potensi untuk obligasi secara keseluruhan tetap bergantung pada kebijakan suku bunga dan outlook ekonomi, di mana penurunan suku bunga dapat mendukung kinerja obligasi, sementara naiknya suku bunga dapat menimbulkan tekanan,” kata Guntur.

Sebelumnya, Direktur Batavia Prosperindo Asset Management Eri Kusnadi mengatakan komposisi aset saat ini dapat ditempatkan secara berimbang antara obligasi dan saham, menyusul rencana The Fed untuk menurunkan suku bunga yang akan diikuti Bank Indonesia.

Dari berbagai macam aset, Eri melihat prospek saham sementara ini masih baik karena terbukti dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil dan solid. Demikian pula dengan prospek dari reksa dana pendapatan tetap yang berisikan obligasi.

----------------------------------

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper