Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Komoditas Hari Ini (4/3): Batu Bara dan CPO Menghijau di Awal Pekan

Harga batu bara mencatatkan penguatan setelah kementerian energi India mengurangi target penambahan kapasitas termal.
Aktivitas tambang batu bara di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. - Bisnis/Husnul Iga Puspita
Aktivitas tambang batu bara di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. - Bisnis/Husnul Iga Puspita

Bisnis.com, JAKARTA - Harga batu bara mencatatkan penguatan setelah kementerian energi India mengurangi target penambahan kapasitas termal. CPO di bursa Malaysia diperkirakan diperdagangkan lebih rendah. 

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Sabtu (2/3/2024), harga batu bara berjangka kontrak Maret 2024 di ICE Newcastle pada perdagangan Jumat (1/3) menguat 0,76% atau 1 poin ke level 132 per metrik ton, mencatatkan penguatan sebesar 5,39%,

Kemudian, kontrak pengiriman untuk April 2024 yang memiliki volume terbanyak, menguat 2,84% atau 3,75 poin ke level 136 per metrik ton. Dalam sepekan, kontrak ini menguat sebesar 9,02%.

Mengutip CoalMint, kementerian Energi India telah mengurangi target penambahan kapasitas termal untuk tahun fiskal 2024 menjadi 7,16 GW (gigawatt) dari sebelumnya 14,72 GW karena keterlambatan dalam banyak proyek. 

Pasokan listrik India mengalami defisit sebesar 1,4% dar April-Januari tahun fiskal 2024, dengan perusahaan listrik hanya mampu memenuhi 239,93 GW dari total permintaan listrik sebesar 243,27 GW. 

Adapun, defisit tersebut mencapai 4% pada tahun fiskal 2023 ketika puncak permintaan listrik mencapai 215,89 GW. Penyebab utama situasi ini dikarenakan keterlambatan dalam memperoleh beberapa peralatan tertentu, dan adanya masalah mengenai pembebasan lahan.

Pemerintah juga berencana untuk menambahkan 80 GW kapasitas pembangkit listrik termal di tengah meningkatnya permintaan listrik. Permintaan batu bara di sektor listrik diproyeksi naik menjadi 1,16 miliar ton pada 2030, naik dari 793 juta saat ini. 

Pada tahun 2047, sektor ketenagalistrikan dan sektor lain yang tidak diatur akan membutuhkan 1,7 miliar ton batu bara untuk memenuhi permintaan puncak.

Harga CPO  Awal Maret

Berikutnya, untuk harga CPO atau minyak kelapa sawit di Bursa Derivatif Malaysia pada Maret 2024 melemah -1 poin menjadi 4.024 ringgit per metrik ton, namun telah mencatatkan penguatan 2,39% dalam sepekan.Kemudian untuk kontrak acuan Mei 2024 juga melemah -6 poin menjadi 3.964 ringgit per metrik ton, dan menguat 2,93% dalam sepekan.

Mengutip Bernama, kontrak berjangka minyak sawit mentah di Bursa Malaysia Derivatives mungkin diperdagangkan lebih rendah pada minggu depan. Hal ini karena aksi ambil untung, lantaran para pelaku pasar menunggu hasil konferensi minyak sawit internasional. 

Pedagang minyak sawit senior antar kelompok perusahaan, Jim Teh, menuturkan bahwa para pedagang dan investor menanti sinyal dari para ahli mengenai pendapat mereka mengenai minyak sawit dan juga mengenai prospek pasar. 

Lanjutnya, Teh mengatakan bahwa saat ini pasar sedang dalam aktivitas penjualan oleh para spekulan karena harga sedang naik. 

“Selain itu, ada banyak stok di Malaysia dan Indonesia. Kami memperkirakan kisaran harga untuk minggu depan adalah sekitar 3.500 per ton sampai 3.700 ringgit per metrik ton,” jelasnya.

Pedagang minyak sawit David Ng juga mengatakan bahwa meskipun pasar diperkirakan bergerak lebih rendah pada minggu depan. Kerugian kemungkinan besar dibatasi oleh prospek penurunan produksi dan tingkat stok yang lebih rendah. 

Ia juga memproyeksi bahwa pihaknya melihat support di 3.900 ringgit per ton dan resistensi di 4.050 ringgit per ton. Adapun, konferensi & pameran outlook harga minyak sawit dan Lauric ke-35 akan diselenggarakan pada 4-6 Maret 2024. 

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Ringgit malaysia ditutup melemah -0,07% terhadap dolar AS pada Jumat (1/3). Ringgit yang melemah membuat minyak kelapa sawit lebih menarik bagi pemegang mata uang asing. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper