Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gagal Bayar BUMN Karya Jadi Momok Pasar Obligasi Korporasi di 2024

Risiko gagal bayar obligasi dari BUMN Karya dinilai menjadi sentimen negatif terhadap pasar obligasi korporasi tahun ini.
ilustrasi obligasi/Istimewa
ilustrasi obligasi/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Penerbitan obligasi korporasi diramal tembus hingga Rp140 triliun sepanjang 2024. Di lain sisi, risiko gagal bayar obligasi dari BUMN Karya menjadi sentimen negatif terhadap pasar obligasi korporasi tahun ini.

Head of Fixed Income Research Sinarmas Sekuritas Aryo Perbongso mengatakan, dengan adanya ekspektasi tingkat suku bunga The Fed yang turun pada pertengahan tahun ini, akan mendorong emiten untuk menerbitkan obligasi korporasi guna mendapatkan biaya dana atau cost of fund yang murah.

"Hal ini sesuai dengan ekpektasi penerbitan obligasi korporasi yang akan meningkat sebesar Rp120 triliun-Rp140 trilliun, atau meningkat signifikan dibandingkan dengan penerbitan selama tahun 2023 sebesar Rp102,2 trilliun," ujar Aryo kepada Bisnis, dikutip Minggu (18/2/2024).

Kendati demikian, dia mengatakan, pada tahun 2024 terdapat risiko gagal bayar obligasi korporasi, meski tergantung terhadap kondisi masing-masing perusahaan. Menurutnya, sektor konstruksi memiliki risiko tinggi terkait gagal bayar obligasi.

Aryo menjelaskan, jika berdasarkan data perusahaan tercatat per 30 September 2023, rata-rata perusahaan sektor konstruksi memiliki credit matrix yang berisiko, yang ditunjukkan oleh average debt to equity ratio sebesar 277,7 kali, debt to EBITDA ratio sebesar 239,9 kali, dan coverage interest ratio sebesar negatif 1,05 kali.  

"Hal tersebut menunjukkan bahwa risiko kredit di sektor tersebut cukup tinggi yang salah satunya terdapat kejadian gagal bayar dari BUMN Karya," pungkas Aryo.

Diberitakan sebelumnya, lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengungkapkan proyeksi mengenai risiko gagal bayar obligasi, terutama dari BUMN Karya. Pasalnya, sejumlah BUMN Karya akan menghadapi jatuh tempo obligasi usai Pilpres 2024. 

Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan 2 Pefindo Yogie Surya mengatakan, risiko gagal bayar obligasi korporasi akan selalu ada. Namun, hal itu tergantung bagaimana setiap emiten bisa memitigasi risiko refinancing atau pembiayaan kembali. 

“Memang kami sadari bahwa sektor konstruksi, terutama BUMN Karya sedang dalam sorotan karena sudah ada dua BUMN karya yang besar yang gagal bayar. Tentu ini kami lihat sebagai suatu kredit negatif di dalam penilaian kami," ujar Yogie dalam konferensi pers, dikutip Kamis (15/2/2024). 

Sebagai pengingat, pada tahun lalu ada dua BUMN Karya yang gagal bayar, yakni PT Waskita Karya Tbk. (WSKT) dan PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Namun, Yogie mengatakan kasus itu tidak bisa disamaratakan dengan BUMN Karya lainnya karena beban utang WIKA dan WSKT relatif lebih tinggi terkait dengan proyek investasi.

Dari catatan Bisnis, emiten BUMN Karya, seperti PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), WIKA dan WSKT akan menghadapi sejumlah utang jatuh tempo sebesar Rp4,47 triliun pada 2024.

Namun, menurut Yogie, BUMN Karya, seperti PTPP, Adhi Karya, dan Hutama Karya masih memiliki kondisi fundamental yang cukup baik dalam memitigasi risiko gagal bayar obligasi korporasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper