Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Usai Pilpres, Adakah Risiko Gagal Bayar Obligasi BUMN Karya di 2024?

Pefindo menyebut ada risiko gagal bayar pada obligasi BUMN Karya yang akan menghadapi jatuh tempo usai Pilpres 2024.
Pefindo menyebut ada risiko gagal bayar pada obligasi BUMN Karya yang akan menghadapi jatuh tempo usai Pilpres 2024. Bisnis/Suselo Jati
Pefindo menyebut ada risiko gagal bayar pada obligasi BUMN Karya yang akan menghadapi jatuh tempo usai Pilpres 2024. Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengungkapkan proyeksi mengenai risiko gagal bayar obligasi, terutama dari BUMN Karya. Pasalnya, sejumlah BUMN Karya akan menghadapi jatuh tempo obligasi usai Pilpres 2024.

Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan 2 Pefindo Yogie Surya mengatakan, risiko gagal bayar obligasi korporasi akan selalu ada, namun itu tergantung bagaimana setiap emiten bisa memitigasi risiko refinancing atau pembiayaan kembali.

“Memang kami sadari bahwa sektor konstruksi, terutama BUMN Karya sedang dalam sorotan, karena sudah ada 2 BUMN karya yang besar yang gagal bayar. Tentu ini kami lihat sebagai suatu kredit negatif di dalam penilaian kami," ujar Yogie dalam konferensi pers, dikutip Kamis, (15/2/2024).

Sebagai pengingat, pada tahun lalu ada dua BUMN Karya yang gagal bayar yakni PT Waskita Karya Tbk. (WSKT) dan PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Namun Yogie mengatakan kasus itu tidak bisa disamaratakan dengan BUMN Karya lainnya, karena beban utang WIKA dan WSKT relatif lebih tinggi terkait dengan proyek investasi.

Yogie mengatakan hal itu tergantung bagaimana manajemen BUMN Karya lainnya dapat memitigasi risiko refinancing sehingga gagal bayar itu tidak terjadi pada tahun ini.

Menurutnya, kondisi fundamental BUMN Karya lainnya relatif cukup baik dalam memitigasi risiko gagal bayar, seperti Hutama Karya yang menggarap proyek strategis nasional Jalan Tol Trans Sumatra karena mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

“Sementara itu PTPP maupun Adhi Karya, menurut pandangan kami masih memiliki kapasitas keuangan yang cukup baik di dalam memitigasi resiko mismatch atau refinancing," pungkasnya.

Dari catatan Bisnis, emiten BUMN Karya seperti PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), WIKA dan WSKT akan menghadapi sejumlah utang jatuh tempo sebesar Rp4,47 triliun pada 2024.

Misalnya, ADHI tercatat memiliki dua surat utang yang jatuh tempo pada 25 Juni 2024 dan 24 Agustus 2024 dengan nilai total Rp947 miliar.

Selanjutnya, PTPP akan menghadapi utang obligasi senilai Rp1,1 triliun pada 2024. Jumlah itu berasal dari dua obligasi yang akan jatuh tempo pada 2 Juli 2024 dan 27 November 2024.

Adapun WIKA juga memiliki obligasi jatuh tempo pada 8 September 2024 dengan nilai pokok sebesar Rp571 miliar. Sedangkan WSKT memiliki obligasi dengan nilai pokok Rp1,36 triliun dan jatuh tempo 16 Mei 2024.

Secara keseluruhan, Pefindo memperkirakan nilai jatuh tempo obligasi korporasi mencapai Rp150,5 triliun pada 2024. Alhasil, pasar obligasi korporasi masih dibayangi risiko gagal bayar usai Pilpres 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper