Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bumi Resources (BRMS) Targetkan Produksi Emas 35.000 Troy Ounce 2024

Bumi Resources Mineral (BRMS) membidik produksi emas sebesar 35.000 troy ounce dengan average selling price (ASP) atau harga acuan rata-rata di atas US$2.000
Suasana fasilitas pengolahan emas PT Citra Palu Minerals, anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), di Sulawesi./bumiresourcesminerals.com
Suasana fasilitas pengolahan emas PT Citra Palu Minerals, anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), di Sulawesi./bumiresourcesminerals.com

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten emas Grup Bakrie, PT Bumi Resources Mineral Tbk. (BRMS) membidik produksi emas sebesar 35.000 troy ounce dengan average selling price (ASP) atau harga acuan rata-rata di atas US$2.000 per troy ounce. 

Direktur Bumi Resources Mineral Herwin Hidayat mengatakan untuk sepanjang 2024, produksi emas diharapkan dapat melampaui 35.000 troy ounce atau lebih tinggi dibandingkan estimasi produksi 2023 sebesar 25.000 troy ounce. 

“Untuk full year 2024, harapannya produksi emas bisa melampaui 35,000 oz,” kata Herwin kepada Bisnis, Senin (5/2/2024). 

Sementara itu, Herwin mengatakan ASP emas BRMS diharapkan akan berada di atas US$2.000 per troy ounce sepanjang 2024, mengingat harga emas saat ini yang terus meningkat. 

Adapun untuk periode 2023, BRMS mengestimasikan produksi emas mencapai sekitar 20.000 hingga 25.000 troy ounce. Capaian ini naik 270% hingga 362% dari total produksi sepanjang 2022 yaitu 5.400 troy ounce. 

Sebelumnya Herwin mengungkapkan kemungkinan harga emas akan mencapai US$2.000 per troy ounce atau bahkan lebih tinggi sepanjang 2024. Keyakinan ini didasarkan pada kondisi geopolitik serta potensi penurunan suku bunga oleh The Fed. 

Faktor-faktor ini berkontribusi pada penguatan harga emas yang masih dianggap sebagai tempat aman untuk investasi. Beberapa lembaga keuangan seperti JPMorgan, Goldman Sachs, dan UBS juga meramalkan bahwa harga emas akan melampaui $2.000 per troy ounce pada tahun 2024. 

Herwin menjelaskan bahwa faktor geopolitik yang masih rawan, seperti kelanjutan perang Rusia - Ukraina, situasi di Gaza-Israel, dan keadaan di Yaman, turut mempengaruhi prediksi ini. Selain itu, The Fed juga dinilai cukup stabil dalam menjaga suku bunga di paruh kedua tahun 2023, berkisar antara 5,25-5,5%.

--------------

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper