Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Permintaan Emas Tembus Rekor, Harga Emas Lanjut Meroket Pekan Depan?

Harga emas pada pekan depan berpotensi meningkat terdorong oleh masih tingginya permintaan fisik emas oleh investor, rilis data ekonomi AS dan keputusan The Fed
Permintaan Emas Tembus Rekor, Harga Emas Lanjut Meroket Pekan Depan?. Tumpukan emas batangan 1 kilogram di YLG Bullion International Co. Bangkok, Thailand pada Jumat (22/12/2023). - Bloomberg/Chalinee Thirasupa
Permintaan Emas Tembus Rekor, Harga Emas Lanjut Meroket Pekan Depan?. Tumpukan emas batangan 1 kilogram di YLG Bullion International Co. Bangkok, Thailand pada Jumat (22/12/2023). - Bloomberg/Chalinee Thirasupa

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas global pada pekan depan berpotensi meningkat terdorong oleh masih tingginya permintaan fisik emas oleh investor. Selain itu, harga emas pekan depan juga dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS dan keputusan The Fed yang menahan suku bunga.

Analis Komoditas Lukman Leong mengatakan, permintaan fisik emas masih sangat kuat. Sebab, World Gold Council baru saja merilis data yang menunjukkan pembelian emas di tahun 2023 mencapai tingkat rekor tertinggi, dan pembelian dari bank sentral mencapai level tertinggi kedua.

Mengacu data World Gold Council yang dirilis 31 Januari 2024, total permintaan fisik emas termasuk over the counter (OTC) pada tahun 2023 menembus rekor tertinggi sebesar 4.899 ton. Sedangkan Bank Sentral membukukan pembelian bersih tahunan sebesar 1.037 ton, hampir menyamai rekor tahun 2022.

"Sentimen lain yang penting saat ini adalah prospek suku bunga bank sentral dunia, terutama The Fed. Walau pembelian OTC terus kuat, namun permintaan emas non-fisik masih akan digerakkan oleh prospek suku bunga bank sentral dunia," ujar Lukman kepada Bisnis, dikutip Minggu, (4/2/2024).

Adapun, dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Kamis (31/1/2024) waktu Amerika Serikat, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,25%-5,5%.

Menurut CME Fed Watch Tool, para pelaku pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga AS sebesar 70% di bulan Mei 2024, dibandingkan dengan 92% sebelum data dirilis. Suku bunga yang lebih rendah meningkatkan daya tarik emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

Sementara itu, data non-farm payrolls (NFP) menunjukkan, pengusaha di AS menambahkan 353.000 pekerjaan pada bulan Januari 2024, mengalahkan perkiraan ekonom sebanyak 180.000 pekerjaan.

Menyusul data Non-farm Payrolls yang kuat tersebut, imbal hasil obligasi AS sempat menguat ke bawah 4%. Sedangkan indeks dolar AS juga menguat 0,85% ke 103,92 pada Jumat, (2/2/2024).

"Seiring dengan harapan pembalikan arah kebijakan bank dunia tahun ini, harga emas diperkirankan akan terus volatil dan bergerak dalam range besar. Untuk minggu depan range adalah US$2.030 hingga US$2.090," pungkas Lukman.

Adapun pada akhir pekan, Jumat, (2/2/2024) harga emas di pasar spot turun 0,74% ke level US$2.039,76 per ons, tetapi harga naik hampir 1% selama seminggu dan bertahan di atas level utama US$2.000 sejak awal tahun. Sementara emas berjangka (comex) AS ditutup turun 0,84% ke level US$2.053,7.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper