Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Rp15.490 per Dolar, Babak Belur Dihantam Data Ekonomi AS

Rupiah kembali ditutup melemah ke posisi Rp15.490 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (4/1/2023).
Ilustrasi Rupiah. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan rencana implementasi redenominasi rupiah. JIBI/Bisnis.com
Ilustrasi Rupiah. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan rencana implementasi redenominasi rupiah. JIBI/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah kembali ditutup melemah ke posisi Rp15.490 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (4/1/2023). Sejumlah data ekonomi AS mendorong dolar yang kemudian menekan rupiah. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,06% atau 9,5 poin ke level Rp15.490 di hadapan dolar AS. Sementara itu indeks dolar terpantau melemah 0,14% ke level 102,049. 

Sejumlah mata uang Asia bergerak beragam terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,22%, dolar Taiwan melemah 0,09%, won korea turun 0,39%, yuan China turun 0,04%, ringgit Malaysia turun 0,07% dan bath Thailand menipis 0,01%. 

Sementara itu, mata uang yang menguat adalah peso Filipina 0,16%, rupee India 0,06% dan dolar Singapura melemah 0,05%. 

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan manufaktur AS mengalami kontraksi lebih lanjut pada bulan Desember, meskipun laju penurunannya melambat, sementara lowongan pekerjaan AS turun untuk bulan ketiga berturut-turut pada bulan November, menunjukkan berkurangnya kondisi pasar tenaga kerja. 

Data terbaru yang menunjukkan melemahnya perekonomian AS terus mendukung spekulasi penurunan suku bunga The Fed tahun ini seiring dengan terkendalinya inflasi. Namun, meningkatnya ekspektasi terhadap skenario soft-landing di negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini telah membuat para pedagang terpecah mengenai kecepatan dan skala pelonggaran dari bank sentral AS.

“Penilaian pasar saat ini menunjukkan sekitar 72% kemungkinan bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunganya pada bulan Maret, dibandingkan dengan peluang 90% pada minggu lalu, menurut alat CME FedWatch,” katanya dalam riset harian. 

Sementara itu, rasio utang pemerintah terhadap PDB per akhir November tercatat 38,11 persen. Angka tersebut turun dari posisi Desember 2022 yang sebesar 39,7 persen. Sedangkan dari sisi indikator risiko mata uang alias currency risk, proporsi utang Indonesia dalam valuta asing (valas) juga terus menurun. Suminto mencatat, pada 2019 sebelum pandemi, outstanding utang pemerintah RI dalam mata uang valas berada di 37,9 persen.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp15.470- Rp15.550 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper