Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Turun 10% Setahun, Minyak Mentah Menuju Pelemahan Tahunan Terbesar sejak 2020

Harga minyak mentah Brent dan WTI tercatat melemah 10% sejak awal tahun hingga 29 Desember 2023.
Seorang pekerja berdiri di samping tangki penyimpanan minyak di Pilipinas Shell Petroleum Corp. Shell Import Facility Tabangao (SHIFT) di Batangas City, Filipina. Minyak mentah melemah pada Rabu (16/8/2023) menyusul kekhawatiran terhadap ekonomi China yang berpotensi mengikis permintaan./Bloomberg
Seorang pekerja berdiri di samping tangki penyimpanan minyak di Pilipinas Shell Petroleum Corp. Shell Import Facility Tabangao (SHIFT) di Batangas City, Filipina. Minyak mentah melemah pada Rabu (16/8/2023) menyusul kekhawatiran terhadap ekonomi China yang berpotensi mengikis permintaan./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah menuju penurunan tahunan terbesar sejak 2020 karena adanya perang dan pengurangan produksi OPEC+ yang gagal mengangkat harga. Para pedagang juga khawatir pasokan minyak mentah global mungkin melebihi permintaan pada kuartal-kuartal mendatang. 

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (29/12/2023), minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Februari 2024 menguat sebesar 0,29% atau 0,21 poin ke level US$71,98 per barel pada pukul 14.03 WIB.  Minyak mentah Brent juga dalam posisi menguat sebesar 0,45% atau 0,35 poin ke level US$77,50 per barel. 

Harga minyak mentah WTI diperdagangkan mendekati US$72 per barel. Kemudian, minyak mentah Brent bertahan di atas US$77 per barel dan berada di jalur penurunan mingguan, bulanan dan triwulanan. 

Patokan global, minyak mentah Brent, telah menurun sekitar 10% pada tahun ini. Sementara acuan AS juga telah menurun dengan jumlah yang sama. 

Harga minyak telah berakhir lebih rendah pada Kams (28/12) setelah data resmi AS menunjukan bahwa sementara stok minyak mentah nasional menyusut pada minggu lalu, kepemilikan di pusat penyimpanan utama, Cushing, Oklahoma meningkat pada minggu ke-11 dan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2023. Adapun, produksi minyak mentah AS juga telah mencapai rekor tertinggi. 

Harga minyak mentah juga mengakhiri tahun dengan penuh gejolak, dengan adanya konflik Israel-Hamas dan spekulasi bank sentral Amerika Serikat (AS) sudah selesai menaikkan suku bunga seiring dengan inflasi yang berkurang. 

Namun, meskipun pemotongan pasokan dilakukan berulang kali oleh OPEC dan sekutunya, peningkatan produksi dari negara-negara di luar kelompok tersebut dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan permintaan yang melambat, mendorong harga minyak mentah berjangka menjadi lebih rendah. 

Tak hanya itu, para pedagang kini juga dihadapkan pada ketegangan di Laut Merah setelah serangan kapal oleh Houthi. Separuh dari armada kapal kontainer dunia yang transit di jalur perairan tersebut kini menghindari rute tersebut. Kapal tanker minyak mentah juga dialihkan. 

“Konflik yang berkepanjangan di Gaza membuat ketegangan geopolitik tetap tinggi,” jelas ahli strategi pasar di IG Asia Pte, Yeap Jun Rong. 

Namun, menurutnya, reli yang lebih luas dan dolar AS yang berjuang untuk mendapatkan daya tarik akhir-akhir ini membantu memberikan beberapa katalis yang mendukung minyak memasuki akhir tahun. 

Untuk diketahui, dalam putaran pemotongan terbaru, anggota OPEC+ termasuk Rusia, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak menjanjikan pengurangan tambahan yang akan berlaku mulai 1 Januari 2024. 

Arab Saudi juga akan melanjutkan pengurangan produksi sebesar 1 juta barel per hari pada kuartal I/2024 yang kemudian dapat diperpanjang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper