Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham-Saham Pilihan Sekuritas Menyambut Window Dressing & Santa Claus Rally

Potensi window dressing atau Santa Claus rally di akhir tahun dapat menjadi momentum investor mengoleksi saham-saham unggulan seperti BBCA, TLKM hingga AKRA.
Annisa Kurniasari Saumi,Dionisio Damara Tonce
Senin, 18 Desember 2023 | 06:00
Ilustrasi Santa Claus Rally di bursa saham Amerika Serikat/Istimewa
Ilustrasi Santa Claus Rally di bursa saham Amerika Serikat/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan pasar saham menjelang tutup tahun diperkirakan akan terjadi oleh para analis. Potensi window dressing atau Santa Claus rally di pengujung tahun dapat menjadi momentum investor mengoleksi saham-saham unggulan.

Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas ChangKun Shin menuturkan pada umumnya, pasar saham cenderung menguat di kuartal IV, sehingga kinerja pasar saham di akhir tahun akan semakin baik. Shin menjelaskan, hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, yakni peningkatan aktivitas perdagangan menjelang akhir tahun. 

"Investor cenderung melakukan window dressing, yaitu kegiatan untuk memperbaiki kinerja portofolio mereka menjelang akhir tahun," kata Shin dikutip Minggu (17/12/2023). 

Selain itu, lanjut Shin, terdapat peningkatan optimisme investor. Menurutnya, investor cenderung optimistis dengan prospek ekonomi pada tahun depan. 

Faktor ketiga, kata Shin, adalah peningkatan permintaan dana untuk liburan. Investor cenderung menarik dana mereka dari pasar saham untuk digunakan untuk keperluan liburan.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Kiwoom Sekuritas melihat kemungkinan terjadinya Santa Claus rally pada akhir tahun ini cukup besar. Selain itu, potensi penurunan suku bunga dari The Fed maupun Bank Indonesia pada tahun depan, serta adanya momentum politik dapat menjadi sinyal hadirnya Santa Claus rally tahun ini.

"Namun, hal ini tetap harus diwaspadai karena pasar saham juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti kondisi ekonomi global dan kebijakan moneter dari bank sentral," tuturnya. 

Senada, Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki potensi penguatan pasar signifikan akibat aksi mempercantik portofolio oleh investor besar atau window dressing akhir tahun. Hal tersebut menurutnya akan terjadi pada beberapa saham blue chip. 

"Ada beberapa saham blue chip yang mengalami fenomena diperdagangkan dengan valuasi lebih rendah, meskipun profitabilitasnya naik. Kita melihat ini bisa jadi peluang untuk akumulasi," kata Robertus, dikutip Minggu (17/12/2023).

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas masih memperkirakan IHSG akhir tahun ini akan ada di level yang lebih baik, yakni sekitar 7.200-7.300. Menurutnya, target akhir tahun ini lebih rendah dari target Mirae Sekuritas sebelumnya pada level 7.400. 

Hal tersebut memperhitungkan volatilitas global. Akan tetapi, dengan The Fed yag memberikan pernyataan dovish, Mirae Asset Sekuritas meyakini IHSG kemungkinan menutup tahun ini di kisaran 7.200.

Robertus menjelaskan secara valuasi, Mirae Asset Sekuritas melihat IHSG layak dihargai lebih tinggi, karena secara price to earning ratio masih lebih rendah dibandingkan indeks negara-negara lain. Menurutnya, negara seperti India mempunyai rate yang lebih rendah, tet

Saham-Saham Pilihan Sekuritas Menyambut Window Dressing & Santa Claus Rally
api valuasi indeksnya lebih tinggi. 

"Ini yang membuat kami menetapkan target yang cukup optimistis untuk IHSG di 2024, terutama setelah adanya kejelasan tingkat suku bunga yang lebih rendah, dan hasil pemilu," tuturnya.

Menurutnya, Mirae Asset Sekuritas menetapkan target IHSG pada level 8.100 untuk tahun depan.

Saham-Saham Pilihan Sekuritas Menyambut Window Dressing & Santa Claus Rally

Rekomendasi Saham Pilihan Menyambut Santa Claus Rally

Beberapa saham blue chip pilihan dari Mirae Asset Sekuritas untuk akhir tahun ini adalah PT Astra International Tbk. (ASII), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT XL Axiata Tbk. (EXCL), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). 

Menurut Robertus ASII memiliki valuasi rasio harga saham per laba (P/E) yang terus turun mendekati level Maret 2020, meskipun valuasi profitabilitas keuntungan ekuitas (ROE) yang meningkat. 

Harga saham dan valuasi TLKM juga membaik dari sebelumnya yang turun tajam. Saham blue chip lain adalah EXCL, dengan valuasi rasio harga saham per nilai buku (P/BV) yang telah turun ke bawah satu kali. 

‘’Menurut kami saham EXCL sudah cukup menarik, meskipun profitabilitas ROE tidak setinggi emiten lain di sektornya, tetapi emiten memiliki rencana besar untuk mengkonsolidasikan 750.000 pengguna jasa PT Link Net Tbk. (LINK). Transaksi ini masih menunggu persetujuan regulator dan diharapkan selesai pada kuartal I/2024.’’ ujarnya.

Salah satu saham blue chip yang juga menurutnya masih lagging dan menarik adalah AKRA. Dia menjelaskan rasio P/E perusahaan masih cenderung stagnan, meskipun profitabilitas ROE masih terus mengalami kenaikan. 

Baru-baru ini, AKRA telah menetapkan proyeksi pertumbuhan laba bersih mencapai 12%-15% YoY pada 2024 mendatang yang ditopang oleh permintaan BBM dan kimia dasar dari Kawasan Indonesia Timur, terutama dari industri pemurnian-peleburan hasil tambang dan mineral (smelter). 

Selain itu, AKRA juga optimistis penjualan lahan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik (Jatim) akan mendukung kinerjanya.

Optimisme peningkatan pasar saham juga disampaikan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus. Dia mengatakan dengan situasi dan kondisi yang penuh dengan euforia saat ini, potensi terjadinya santa claus rally sangat besar. 

"Hal ini memberikan sebuah kekuatan dan semangat baru bagi pelaku pasar dan investor untuk menciptakan santa claus rally di akhir tahun," kata Nico, dikutip Minggu (17/12/2023). 

Alasannya, kata dia, karena potensi penurunan tingkat suku bunga The Fed pada tahun depan. Hal tersebut menjadi alasan utama terjadinya santa claus rally tahun ini. 

Nico pun melihat terdapat beberapa saham yang bisa diperhatikan investor, yakni mulai dari perbankan seperti BMRI, BBNI, BBRI, dan BBCA. Lalu consumer non-cyclical seperti AMRT, INDF, ICBP, dan MYOR.

Kemudian sejumlah saham di sektor infrastruktur dan telekomunikasi seperti JSMR, TLKM, dan EXCL juga menjadi rekomendasi.

Sementara itu, Analis Kanaka Hita Solvera William Wibowo merekomendasikan beberapa saham di akhir tahun ini. Saham-saham tersebut adalah BBCA, dengan rekomendasi wait and see masih cenderung bearish, support di Rp8,550 dan Rp8.200, resistance di Rp8.950.

Lalu BREN dengan rekomendasi buy, dengan support di Rp6.850, dan resistance Rp8.175 dan Rp8.500, BBRI dengan rekomendasi buy on weakness dan bergerak pada support di Rp5.000 dan resistance Rp5.600, serta TLKM dengan rekomendasi buy on weakness yang memiliki support Rp3.550 dan resistance di Rp4.000.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper