Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BUMI Targetkan Produksi Batu Bara 80 Juta Ton, Terbesar di Indonesia

PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menargetkan volume produksi batu bara 75 juta-80 juta ton pada 2023.
Dionisio Damara Tonce,Hafiyyan
Jumat, 1 Desember 2023 | 10:10
Operasional tambang batu bara kelompok usaha Bumi Resources./bumiresources.com
Operasional tambang batu bara kelompok usaha Bumi Resources./bumiresources.com

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menargetkan volume produksi batu bara 75 juta-80 juta ton pada 2023. BUMI menjadi produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Dileep Srivastava, Director & Corporate Secretary BUMI, menyampaikan pada 2023 perseroan menargetkan volume produksi batu bara 75 juta-80 juta ton. Rerata harga jual berkisar US$80-US$90 per ton dengan estimasi biaya kas produksi US$55-US$60 per ton.

"Pedoman produksi batu bara pada 2023 sebesar 75 juta-80 juta ton," jelasnya dalam siaran pers, Jumat (1/12/2023).

Per September 2023, BUMI memproduksi batu bara 56,2 juta ton dan menjual 54,3 juta ton. Batu bara tersebut berasal dari dua anak usahanya, yakni PT Arutmin Indoneia (AI) dan PT Kaltim Prima Coal (KC).

AI memproduksi 16,1 juta ton batu bara dan menjual 15,9 juta ton per September 2023. Dalam periode yang sama, KPC menghasilkan 40,1 juta ton batu bara dan memasarkan 38,4 juta ton. Namun, sesuai PSAK 666, BUMI hanya mengonsolidasikan AI dalam laporan keuangan, tanpa KPC.

Hingga kuartal III/2023, BUMI meraih pendapatan sebesar US$1,17 miliar atau setara Rp18,34 triliun (estimasi kurs Rp15.625 per dola AS). Raihan pendapatan ini turun 15,78% year-on-year (YoY) dari periode tahun sebelumnya yakni US$1,39 miliar.

Dileep Srivastava menjelaskan melemahnya pendapatan perusahaan disebabkan oleh harga batu bara yang turun tajam dibandingkan dengan patokan harga pada tahun lalu.

Selain itu, ketidakpastian pasar batu bara diikuti dengan situasi serta kondisi geopolitik dan ekonomi global juga dinilai menjadi faktor yang melemahkan pendapatan BUMI.

“Kendati produksi dan penjualan meningkat 5% dari tahun lalu, harga batu bara yang anjlok 28% berdampak signifikan pada kondisi pasar batu bara yang bergejolak,” ujar Srivastava dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Kamis (30/11/2023).

Dia menambahkan bahwa perseroan juga menanggung pembayaran royalti 32% dari pendapatan, pajak, subsidi harga domestik, tingginya harga bahan bakar, persediaan dan tingginya produksi di India, China, dan Indonesia.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan per September 2023 mencapai US$1,09 miliar atau menurun dari tahun sebelumnya US$1,10 miliar. Namun, laba bruto BUMI tergerus menjadi US$78,92 juta dari sebelumnya US$294,27 juta.

Setelah dikurangi berbagai beban lainnya, BUMI mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$58,26 juta atau setara Rp910,31 miliar. Laba bersih BUMI anjlok 83,78% dari sebelumnya US$365,49 juta per September 2022.

Hingga kuartal III/2023, kas dan setara kas BUMI turun menjadi US$60,22 juta. Salah satunya karena BUMI menggunakan kas neto untuk operasi US$168,32 juta, dari sebelumnya mendapat kas neto dari aktivitas operasi US$76,01 juta.

Sementara itu, total aset BUMI mengalami penurunan menjadi US$4,18 miliar per September 2023 atau dari posisi US$4,48 miliar pada akhir 2022. Per September 2023, ekuitas BUMI mencapai US$2,81 miliar, sementara liabilitas US$1,37 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper