Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Contekan 3 Saham Bikin Kaya Warren Buffett: Coca-Cola hingga Visa

Saham-saham koleksi Warren Buffett seperti Coca Cola, Floor & Decor, sert Visa dapat menjadi pilihan cuan investor selama November 2023.
Chairman dan CEO Berkshire Hathaway Inc. Warren Buffett ketika menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Berkshire Hathaway Inc. di Omaha, Nebraska, AS, Minggu (6/5/2019)./Bloomberg-Houston
Chairman dan CEO Berkshire Hathaway Inc. Warren Buffett ketika menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Berkshire Hathaway Inc. di Omaha, Nebraska, AS, Minggu (6/5/2019)./Bloomberg-Houston

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan investasi Berkshire Hathaway Inc. milik Warren Buffett telah menjadi mesin uang bagi pemegang saham saham jangka panjangnya. Sejak 1965 hingga 2022, saham Berkshire mencatatkan return hingga 3.787.464%.

Warren Buffett memanfaatkan keuntungan dari saham Berkshire dengan jalan mengakuisisi perusahaan-perusahaan secara langsung untuk dioperasikan melalui perusahaan holding, atau membeli saham sebagai portofolio investasinya.

Rekam jejak Warren Buffett yang mengesankan di dunia investasi bisa ditiru investor ritel dengan cara mencermati saham-saham pilihan Buffett dan tim investasi Berskhire Hathaway saat ini.

Mengutip analis The Motley Fool, dikutip Minggu (19/11/2023), ada tiga saham dalam portofolio Warren Buffett, yang bisa ikut dikoleksi oleh investor ritel pada November ini.

3 Saham Potensi Cuan Koleksi Warren Buffett:

  • Coca-Cola

The Coca-Cola Company merupakan satu-satunya saham yang tidak pernah dijual Buffett.

Buffett telah berkali-kali menjelaskan bahwa ia memandang perekonomian AS sebagai pendorong bagi pasar saham, dan bukan sebaliknya. Inovasi dan pola pikir berkembang dari perusahaan yang berpikiran maju dan mengarah pada pertumbuhan penjualan dan keuntungan ekonomi. Produk-produk dengan merek paling kuat menghasilkan loyalitas, penjualan, keuntungan, dan nilai pemegang saham. Buffett menilai Coca-Cola memiliki konsep tersebut.

Pendapatan bersih Coca-Cola tercatat meningkat 8% dari tahun ke tahun pada kuartal III/2023. Meskipun margin operasinya menyusut dari 27,9% menjadi 27,4%, laba per saham naik 9% menjadi US$0,71. Dengan demikian, sekalipun mengalami tekanan, Coca-Cola dinilai berada pada posisi yang baik dan akan terus berkembang.

Investor juga telah lama mengapresiasi Coca-Cola atas dividennya. Produsen minuman bersoda ini bisa disebut sebagai Raja Dividen klasik, lantaran memiliki rasio pembayaran dividen tahunan yang naik berturut-turut selama 61 tahun.

Harga saham Coca-Cola turun 10% sepanjang tahun ini (year-to-date) setelah mengalahkan kenaikan pasar tahun lalu. Karena imbal hasil dividen bergerak berlawanan arah dengan harga saham (dengan asumsi pembayaran tidak dipotong), dividen Coca-Cola kini menghasilkan yield 3,2%, sedikit lebih tinggi dari rata-rata 10 tahunnya yang berkisar 3%.

Coca-Cola adalah mesin uang, dan diharapkan mencetak rekor arus kas bebas lebih dari US$11 miliar pada 2023. Inilah yang mendorong perseroan loyal membagikan dividen.

  • Floor & Décor

Selama dua tahun terakhir, kebijakan Bank Sentral AS Federal Reserve telah menjadi perhatian besar di pasar saham seiring dengan kampanyenya untuk meredakan inflasi dengan menaikkan suku bunga dan memperketat jumlah uang beredar. Kebijakan ini telah mendorong harga saham melemah dan memberikan dampak yang sangat besar pada beberapa segmen perekonomian, di antaranya pasar perumahan.

Namun, ada tanda-tanda bahwa The Fed mungkin akan menaikkan suku bunga acuan untuk saat ini, dan investor menjadi lebih percaya diri dengan pandangan tersebut setelah laporan inflasi bulan Oktober menunjukkan bahwa harga-harga naik hanya 3,2% secara tahunan. Level tersebut adalah tingkat inflasi terendah di AS dalam sejarah.

Saham-saham AS pun melonjak sebagai responsnya, terutama saham-saham yang memiliki paparan terhadap suku bunga dan suku bunga hipotek. Kelompok saham tersebut mencakup produsen lantai perumahan Floor & Décor yang merupakan perusahaan milik Berkshire Hathaway sejak kuartal III/2021.

Secara kinerja Floor & Décor memang mengalami kesulitan karena perlambatan pasar perumahan akhir-akhir ini. Pada kuartal ketiga, penjualan perusahaan turun 9,3%, dan laba bersih turun dari US$76,2 juta menjadi US$65,9 juta. Namun, mereka terus memperluas ekspansinya dengan membuka lima gudang toko baru.

Keunggulan kompetitif perusahaan, termasuk skala ekonomi dan beragam pilihan, bahkan dinilai analis tidak dapat ditandingi oleh Home Depot dan Lowe's.

Home Depot mengatakan dalam laporan keuangannya baru-baru ini, bahwa penjualan barang-barang mahal masih turun. Itu termasuk kategori seperti lantai, yang sering dipasang sebagai bagian dari proyek renovasi rumah. 

Jika tanda-tanda terus menunjukkan bahwa suku bunga kepemilikan rumah (KPR) telah mencapai puncaknya untuk siklus ini, dan penurunan mungkin terjadi pada tahun depan, saham Floor & Decor diprediksi akan terus menguat.

  • VISA

Visa dinilai memberikan keuntungan tinggi bagi investor selama dekade terakhir. Perusahaan ini mengoperasikan jaringan pemrosesan pembayaran yang luas dan secara konsisten menghasilkan persentase pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar dua digit.

Tidak mengherankan jika Berkshire Hathaway terus memegang saham Visa dalam jumlah cukup besar di dalamnya, yakni senilai US$1,9 miliar pada akhir kuartal ketiga 2023.

Seperti banyak investasi lain dalam portofolio Berkshire, Visa adalah bisnis dominan di pasar besar dan berkembang yang akan menghasilkan imbal hasil selama bertahun-tahun.

Visa terlihat semakin kuat setelah keluar dari era pandemi. Perusahaan ini membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba secara tahunan masing-masing sebesar 11% dan 22%, pada kuartal terakhir.

Meskipun kinerja saham Visa sedikit di bawah indeks S&P 500 selama tiga tahun terakhir, peluang Visa di pasar pembayaran digital seharusnya menghasilkan pertumbuhan yang cukup untuk mencetak keuntungan di atas rata-rata dalam jangka panjang.

Semakin banyak konsumen meningkatkan porsi pengeluaran mereka yang menggunakan pembayaran non-tunai, dan hal ini tetap menjadi pendorong terbesar dalam pertumbuhan Visa. Sebuah studi tahun 2022 yang dilakukan oleh Federal Reserve menemukan bahwa pembayaran non-tunai tumbuh lebih cepat antara tahun 2018 dan 2021 dibandingkan periode lainnya sejak tahun 2000.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : The Motley Fool
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper