Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

10 Dapen BUMN Serahkan Pengurusan Dana, IFG Kokoh jadi Pengelola AUM Terbesar di Tanah Air

Indonesia Financial Group (IFG) melalui PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) menegaskan posisinya sebagai pengelola dana investasi terbesar.
Pekerja melakukan pemasangan logo Indonesia Financial Group (IFG) di Jakarta, Selasa (11/1/2021). Bisnis/Arief Hermawan P
Pekerja melakukan pemasangan logo Indonesia Financial Group (IFG) di Jakarta, Selasa (11/1/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia Financial Group (IFG) melalui anggota holdingnya PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) menegaskan posisinya sebagai pengelola dana investasi terbesar di Tanah Air. Penegasan posisi ini dipastikan setelah 10 dana pensiun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyepakati penyerahan dana kelolaannya kepada IFG Group. 

Dalam rilis yang disampaikan perusahaan, dikutip Sabtu (11/11/2023), Bahana TCW saat ini memiliki dana kelolaannya Rp55 triliun. Nilai ini menduduki peringkat 1 AUM terbesar di Industri Reksa Dana per September 2023. Perinciannya pengelolaan produk reksa dana sebesar Rp 47 triliun dan produk Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) sebesar Rp 8 triliun.

Nilai kelolaan ini dipastikan semakin besar seiring penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) kerja sama pengelolaan dana investasi bersama 10 BUMN pendiri dapen dengan IFG Group.

Dana pensiun yang menyerahkan pengelolaan investasinya adalah yang didirikan oleh PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani), PT Pegadaian (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Pos Indonesia (Persero), dan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri).

Wakil Direktur Utama IFG Haru Koesmahargyo mengatakan optimalisasi pengelolaan dapen BUMN ini dilakukan agar memberikan manfaat yang sesuai kepada penerima manfaat dengan tetap memperhatikan kemampuan terukur perusahaan pendiri dapen BUMN.

“IFG berkomitmen penuh dalam menjalankan mandat yang diberikan oleh Kementerian BUMN untuk pengelolaan investasi Dapen BUMN yang optimal, sehat, dan berkelanjutan,” kata Haru dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (11/11/2023).

Haru menjelaskan IFG melalui anggota holding PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) akan membantu perusahaan pendiri Dapen BUMN dalam mengelola aset investasinya dengan skema Kontrak Pengelolaan Dana yang dapat memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi perusahaan pendiri maupun penerima manfaat. Ini melengkapi 8 Dapen BUMN yang telah terlebih dahulu melakukan aksi serupa.

“Bagi 18 BUMN pendiri dapen yang telah melakukan kerja sama dengan IFG, kami akan pastikan pengelolaan investasi dapen tersebut terhubung dengan pasar yang lebih besar dan skala ekonomis,” ungkapnya.

Selain itu, Haru menuturkan pihaknya akan mencari instrumen investasi terbaik di pasar dengan negosiasi harga yang lebih menguntungkan. Serta, mengedepankan penerapan strategi investasi Liability Driven Investment (LDI) untuk memitigasi risiko liabilitas sambil mempertahankan kecukupan dan pengembalian aset dalam jangka panjang.

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa sejak 2022, Kementerian BUMN telah menginisiasi penyehatan pengelolaan Dapen BUMN untuk menjamin manfaat yang diterima peserta.

Pria yang akrab disapa Tiko itu mengatakan pengelolaan dapen BUMN mengindikasikan adanya banyak tantangan. Salah satunya janji atas pengembalian manfaat yang tinggi kepada penerima manfaat.

“Sedangkan tingkat imbal hasil [yield] yang diperoleh perusahaan pendiri dapen BUMN masih di bawah tingkat suku bunga pasar, dan bunga aktuaria yang cenderung tinggi,” ungkap Tiko.

Dengan kondisi tersebut, Tiko menilai dapen BUMN berpotensi tidak dapat memenuhi janjinya kepada penerima manfaat. Menurutnya, kerja sama dengan IFG akan mempermudah perusahaan-perusahaan dalam mengelola dapen BUMN, terutama didasarkan pada penilaian atas liabilitas dan aktuaria yang terukur.

“Pengelolaan dapen jangan sampai menjadi prioritas terakhir, karena ada tanggung jawab hukum dan moral,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam kesempatan terpisah, Tiko menyampaikan fokus ke depan dana pensiun adalah integrasi investasi dana pensiun pelat merah di IFG.

“Fokus kami ke depan selain kami lakukan review investigasi [dapen BUMN], yang penting ke depannya justru untuk penggabungan yang investasinya. Jadi kami dalam waktu dekat akan gabungkan lagi sekitar 10 perusahaan digabungkan diinvestasikan di IFG,” ujar Tiko saat ditemui di Jakarta, beberapa hari yang lalu.

Berdasarkan catatan Bisnis, inisiatif awal Kerja Sama Pengelolaan Dana Investasi Bersama sebelumnya telah dilakukan dengan 8 BUMN pada 22 Desember 2022, di antaranya dengan PT Angkasa Pura I, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT Asuransi Kerugian Jasa Raharja (Jasa Raharja), PT Nindya Karya (Persero), Perum Jasa Tirta II, Perum Peruri, PT Taspen (Persero), dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rika Anggraeni
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper