Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mata Uang Asia Hari Ini: Ringgit Makin Melemah, Yen Nantikan Intervensi BOJ

Nilai tukar yen Jepang terpantau melemah tipis 0,01 persen ke 149,87 yen per dolar AS, sedangkan ringgit Malaysia melemah 0,2 persen ke 4,7770 per dolar AS.
Uang kertas 50 ringgit Malaysia di sebuah toko penukaran mata uang di Kuala Lumpur, Malaysia./Bloomberg
Uang kertas 50 ringgit Malaysia di sebuah toko penukaran mata uang di Kuala Lumpur, Malaysia./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar mata uang di Asia bergerak variatif pada awal perdagangan hari ini, Senin (23/10/2023), di tengah penantian pasar terhadap upaya otoritas membendung pelemahan.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar yen Jepang terpantau melemah tipis 0,01 persen ke 149,87 yen per dolar AS pada pukul 08.06 WIB. Sementara itu, dolar Singapura juga melemah 0,03 persen ke S$1,4729 per dolar AS.

Sejalan dengan yen dan dolar Singapura, ringgit Malaysia melemah 0,2 persen ke level 4,7770 ringgit per dolar AS. Adapun baht Thailand anjlok 0,3 persen ke 36,607 baht per dolar AS.

Di sisi lain, won Korea Selatan menguat 0,02 persen ke 1.352,48 won per dolar AS pagi ini, sedangkan peso Filipina menguat 0,05 persen ke 56,8 peso.

Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,36 persen atau 57,5 poin ke level Rp15.872 per dolar AS pada perdagangan pekan lalu, Jumat (20/10/2023).

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terus merangkak mendekati Rp15.900 per dolar AS menjadi dampak dari memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah. Kondisi ini telah menyebabkan sebagian besar pelaku usaha mewaspadai aset-aset berisiko.

Sementara itu, terdapat pengaruh dari komentar bernada dovish Ketua The Fed Jerome Powell  yang mengatakan lonjakan imbal hasil atau yield obligasi AS telah membantu memperkuat kondisi keuangan sehingga mengurangi kebutuhan akan kenaikan suku bunga lebih lanjut. 

Melansir Bloomberg, pasar menantikan kemungkinan intervensi Bank of Japan (BOPJ) untuk membendung pelemahan yen. Para pejabat BOJ sedang mempertimbangkan apakah akan mengubah pengaturan program kontrol kurva imbal hasil pada pertemuan kebijakan pekan depan.

"Pasar kembali waspada terhadap kemungkinan intervensi BOJ," ungkap analis Commonwealth Bank of Australia Joseph Capurso seperti dikutip Bloomberg.

Joseph mengatakan, yen kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan pekan ini di tengah spekulasi pengetatan kebijakan BOJ.

“Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun, di tengah meningkatnya spekulasi pengetatan kebijakan BOJ, tidak akan banyak membantu mengurangi selisih imbal hasil obligasi Jepang yang lebar dengan AS," pungkasnya.

Ringgit Malaysia

Ringgit kembali melemah setelah menyentuh level terendahnya dalam 25 tahun terakhir peklan lalu. Mata uang Malaysia ini diperkirakan akan diperdagangkan sideways pekan ini karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor penting untuk pasar mata uang.

Kepala ekonom dan kepala keuangan sosial Bank Muamalat Malaysia Bhd Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid mengatakan kekhawatiran utama para pelaku pasar adalah apakah kondisi ini akan memburuk, sehingga investor lari mencari mata uang safe haven.

"Masih harus dilihat apakah kondisi pasar yang ada akan membaik minggu depan, tetapi cukup jelas bahwa volatilitas akan tetap tinggi.Dengan demikian, pasar mata uang akan tetap dijaga minggu depan," ungkapnya seperti dikutip Bernama, Senin (23/10).

Abdul Rashid menambahkan bahwa ringgit diperkirakan akan diperdagangkan di kisaran 4,75 hingga 4,77 terhadap dolar AS pada pekan ini.

Meskipun begitu, ia menambahkan bahwa data makroekonomi terbaru dapat memberikan dukungan pada ringgit meskipun ada ketidakpastian pada pasar mata uang dan permintaan eksternal.

Departemen Statistik Malaysia mengatakan tingkat inflasi terus melambat menjadi 1,9 persen di bulan September 2023, sementara perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk kuartal III/2023 mencapai 3,3 persen, naik dari 2,9 persen di kuartal kedua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper