Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Peluang Cuan Indofood (INDF) dari Harga Gandum & Kampanye Pemilu 2024

Penurunan harga gandum akan menjadi katalis positif bagi segmen utama bisnis Indofood Sukses Makmur (INDF).
Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk Anthoni Salim (kanan) memberikan penjelasan kepada awak media usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) dan luar biasa, di Jakarta, Rabu (29/5/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan
Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk Anthoni Salim (kanan) memberikan penjelasan kepada awak media usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) dan luar biasa, di Jakarta, Rabu (29/5/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Penurunan harga gandum, masa kampanye pemilihan umum (Pemilu), hingga stabilitas inflasi berpeluang mendorong PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) mendulang keuntungan berlipat pada sisa tahun ini. 

Menyitir laporan Data Indonesia, harga gandung terpantau melemah pada perdagangan Selasa (3/10) pagi. Harga gandum berjangka untuk kontrak Desember 2023 di Chicago Board of Trade (CBOT), misalnya, turun 0,37 persen ke level US$564,40/gantang (bushel). 

Jika ditarik lebih jauh, sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (YtD), harga gandum tercatat melemah 28,86 persen. Harganya pun merosot 38,75 persen dalam satu tahun terakhir. 

Penurunan harga gandum tersebut lantas diamini oleh Analis Samuel Sekuritas, Pebe Peresia, yang meyakini hal tersebut akan menjadi katalis positif bagi INDF. 

“Seiring dengan penurunan harga beberapa komoditas terutama gandum, kami menilai hal tersebut akan menjadi katalis positif bagi segmen utama INDF, mengingat gandum merupakan bahan baku utama dari segmen mi instan,” ujarnya dalam riset pada Jumat (6/10/2023). 

Pebe memproyeksikan dengan penurunan harga bahan baku tersebut, margin laba sebelum bunga dan pajak dari anak usaha PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) akan mencapai 21,7 persen. Rasio ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 20,6 persen. 

Di sisi lain, dia juga menilai segmen utama INDF tersebut akan mendulang dampak positif dari kampanye pemilu mendatang. Secara historis, penjualan perseroan sebelum pemilu tercatat naik 11,8 persen year-on-year (YoY) pada 2019 dibandingkan rerata 3 tahun sebelumnya. 

Dengan katalis positif tersebut, Samuel Sekuritas menyematkan rating beli untuk saham INDF dengan target harga Rp8.000 per lembar. Adapun risiko yang membayangi saham dari emiten Grup Salim ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan baku. 

Sebelumnya, Analis Panin Sekuritas Andhika Audrey mengatakan bahwa penjualan Indomie akan bertumbuh di sisa tahun 2023. Salah satu faktor pengungkit pertumbuhan itu didorong oleh injeksi aliran dana pada masa kampanye.

“Kami memperkirakan penguatan penjualan perseroan masih akan berlanjut pada paruh kedua 2023, didorong proyeksi money flow injection masa kampanye politik jelang Pemilu, serta percepatan government spending dalam bidang sosial,” ujarnya.

Sementara itu, stabilitas inflasi dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi saham-saham di sektor konsumer, baik cyclical maupun konsumer non-cyclical.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi pada September 2023 kembali melanjutkan tren penurunan menuju level 2,28 persen secara tahunan. 

Tren penurunan inflasi, yang secara konsisten berlangsung sejak Maret 2023 ini, juga mencatatkan level terendahnya selama 19 bulan terakhir.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa stabilitas inflasi dapat memberikan keuntungan bagi emiten yang bergerak di sektor konsumer.

“Stabilitas inflasi ini bisa memberikan benefit terhadap emiten yang bergerak di bidang konsumer, baik itu cyclical ataupun non-cyclical. Dua sektor ini juga masuk dalam kategori watchlist yang memang diamati oleh pelaku investor,” ujarnya kepada Bisnis

Selain stabilitas inflasi, Nafan menilai faktor lain seperti kuatnya konsumsi domestik hingga prospek cerah perekonomian dalam negeri juga mampu menjadi sentimen yang dapat mengungkit harga saham di sektor konsumer.

“Di sisi lain juga ada faktor Pemilihan Umum, juga yang tentunya membuat tingkat konsumsi domestik akan jauh lebih kuat lagi ke depannya,” tutur Nafan.

______________ 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper