Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Jatuh Tertekan Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS

Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York anjlok lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa (26/9/2023), tertekan lonjakan imbal hasil obligasi AS.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York anjlok lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa (26/9/2023) waktu setempat, di tengah kekhawatiran investor atas kebijakan The Fed yang akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mencapai level tertingginya dalam 16 tahun.

Melansir Reuters, Rabu (27/9/2023), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 1,14 persen atau 388,00 poin ke 33.618,88, S&P 500 melemah 1,47 persen atau 63,91 poin ke 4.273,53, dan Nasdaq ambles 1,57 persen atau 207,71 poin ke 13.063,61.

Seluruh 11 sektor dalam indeks S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor teknologi dan real estate turun masing-masing 1,8 persen.

Indeks volatilitas CBOE (.VIX), yang dikenal sebagai "pengukur ketakutan" Wall Street, ditutup pada level tertinggi sejak 25 Mei.

Yang menambah kekhawatiran investor adalah potensi penutupan sebagian pemerintahan AS pada akhir pekan nanti, yang menurut lembaga pemeringkat Moody's akan merugikan kredit negara tersebut.

Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun yang menjadi acuan telah naik ke level tertinggi dalam 16 tahun setelah prospek suku bunga jangka panjang Federal Reserve yang hawkish pada minggu lalu.

“Kami terus menyesuaikan diri dengan suku bunga yang lebih tinggi,” kata Brad McMillan, kepala investasi Commonwealth Financial Network.

“Apa yang Anda dapatkan adalah semakin adanya perasaan bahwa pasar dinilai terlalu tinggi. Ada perasaan nyata bahwa hal ini tidak berkelanjutan, dan pembeli menjadi takut,” tambahnya.

Saham-saham megacap yang telah mendorong indeks lebih tinggi tahun ini, terpantau ambles. Saham Amazon turun 4 persen karena Komisi Perdagangan Federal AS mengajukan gugatan antimonopoli yang telah lama ditunggu-tunggu terhadap pengecer online tersebut.

Selain itu, para investor juga fokus pada indeks harga belanja personal (PCE) yang akan dirilis Jumat nanti, sebagai gambaran baru tentang inflasi.

Sebelumnya Kepala Fed Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan Amerika masih mungkin menghindari resesi.

“Saya telah menyebut ini sebagai jalan emas dan saya pikir itu mungkin terjadi, tetapi ada banyak risiko dan jalannya panjang dan berliku,” katanya dalam wawancara dengan CNBC.

Dua pejabat Fed pekan lalu mengatakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga mungkin terjadi dan biaya pinjaman mungkin perlu tetap lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama agar bank sentral dapat menurunkan inflasi kembali ke target 2 persen.

Meskipun Presiden Fed Boston Susan Collins mengatakan pengetatan lebih lanjut tidak mungkin dilakukan, Gubernur Fed Michelle Bowman memberi isyarat bahwa mungkin diperlukan lebih dari satu kali pengetatan moneter.

“Pasar harus menghadapi realitas perubahan rezim,” menurut Lisa Shalett, kepala investasi di Morgan Stanley Wealth Management.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ibad Durrohman
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper