Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PLN Berencana Rombak RUPTL, PGEO Bisa Cuan?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) akan melakukan komposisi penjualan ke PLN secara signifikan mulai 2025, di tengah rencana revisi RUPTL 2021-2030.
Pengecekan rutin pembangkit listrik tenaga panas bumi milik PT. Pertamina Geothermal Energy/JIBI-Nurul Hidayat
Pengecekan rutin pembangkit listrik tenaga panas bumi milik PT. Pertamina Geothermal Energy/JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) akan melakukan komposisi penjualan ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara signifikan mulai 2025. Sementara itu, PT PLN (Persero) sedang mewacanakan revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 mencapai 75 persen untuk porsi Energi Baru Terbarukan (EBT).

Direktur Keuangan PGEO Nelwin Aldriansyah mengatakan penambahan pasokan penjualan listrik ke PLN akan mulai dibukukan pada awal 2025 saat target proyek Lumut Balai Unit 2 beroperasi komersial pada akhir 2024. 

“Target COD terdekat kami Desember 2024 untuk Lumut Balai unit 2 dengan kapasitas 55MW, jadi tambahan penjualan ke PLN yang signifikan secara organik, baru mulai dibukukan pada awal 2025,” katanya kepada Bisnis, Selasa (12/9/2023). 

Nelwin menjelaskan PGEO dalam 5 tahun ke depan akan menambah kapasitas terpasang sebesar 600 MW. PGEO juga menargetkan penambahan kapasitas 340 MW dalam 2 tahun pertama. Seluruh penambahan kapasitas tersebut akan memakan nilai investasi sebesar US$1,6 miliar. 

Sepanjang semester I/2023, PGEO memasok listrik ke PLN sebesar US$161,31 juta. 

Pada pemberitaan Bisnis sebelumnya, PLN (Persero) menargetkan perubahan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) akan rampung dalam waktu dekat. 

Pada RUPTL terbaru nantinya penambahan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) direncanakan mencapai 60 gigawatt (GW) atau 75 persen dari total penambahan pembangkit listrik sampai dengan 2040. 

Dalam perencanaan perubahan RUPTL ini, PLN juga berencana untuk membangun jaringan transmisi yang mendukung energi hijau. Pembangunan infrastruktur transmisi ini penting untuk mengatasi ketidakcocokan antara ketersediaan sumber energi terbarukan (EBT) berbasis baseload dengan permintaan listrik di pusat. 

Menurut Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, sumber-sumber EBT berbasis baseload yang besar terletak di wilayah yang jauh dan tersebar dari lokasi permintaan listrik. Selain itu, PLN juga berkomitmen untuk membangun jaringan smart grid guna meningkatkan kapasitas pembangkit EBT berjenis intermittent atau EBT variabel menjadi 28 GW hingga tahun 2040, meningkat dari kapasitas sebelumnya yang hanya mencapai maksimal 5 GW.

Darmawan mengatakan bahwa pembahasan revisi RUPTL tersebut cenderung lebih cepat lantaran berkas RUPTL telah selaras dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper