Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Besok Masih Cenderung Tertekan, Cek Saham Potensi Cuan

IHSG berisiko tertekan dalam rentang 6.889-7.02 dengan rekomendasi saham pilihannya adalah UNVR, KLBF, ITMG, HMSP, PWON, ASRI, SMRA, ICBP, JSMR.
Annisa Kurniasari Saumi,Hafiyyan
Selasa, 12 September 2023 | 17:45
IHSG berisiko tertekan dalam rentang 6.889-7.02 dengan rekomendasi saham pilihannya adalah UNVR, KLBF, ITMG, HMSP, PWON, ASRI, SMRA, ICBP, JSMR. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
IHSG berisiko tertekan dalam rentang 6.889-7.02 dengan rekomendasi saham pilihannya adalah UNVR, KLBF, ITMG, HMSP, PWON, ASRI, SMRA, ICBP, JSMR. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih cenderung tertekan pada perdagangan Rabu (13/9/2023). Rekomendasi saham pilihannya mencakup UNVR, KLBF, ITMG, HMSP, PWON, ASRI, SMRA, ICBP, JSMR.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya menyampaikan perkembangan pergerakan IHSG terlihat masih betah berada dalam level konsolidasi dengan potensi tekanan minor yang berpeluang terjadi.

"Tingginya aksi jual asing sepanjang 2023 juga turut menjadi sentimen bagi pergerakan IHSG," paparnya dalam publikasi riset.

Peluang koreksi wajar IHSG masih dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan akumulasi pembelian. Hal ini mengingat dalam jangka panjang IHSG masih berada dalam jalur uptrend.

William memprediksi hari ini IHSG berisiko tertekan dalam rentang 6.889-7.023. Rekomendasi saham pilihannya adalah UNVR, KLBF, ITMG, HMSP, PWON, ASRI, SMRA, ICBP, JSMR.

Sementara itu, IHSG ditutup melemah 0,42 persen ke level 6.933,96 pada perdagangan Selasa (12/9/2023). IHSG ditutup melemah bersama saham ASSA, GOTO, hingga BUMI.

Berdasarkan data RTI pukul 16.00 WIB, IHSG melemah  29,4 poin dan sempat mencapai level terendah 6.928 sepanjang sesi perdagangan. Adapun level tertinggi IHSG hari ini berada di level 6.976.

Kapitalisasi pasar IHSG berkurang ke Rp10.279 triliun, dari sebelumnya Rp10.302 triliun. Terdapat 245 saham menguat, 286 saham berakhir di zona merah, dan 222 saham stagnan.

Saham emiten milik konglomerat TP Rachmat PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) menjadi saham top losers hari ini dengan turun 10,16 persen ke level Rp1.015. Saham ASSA diperdagangkan pada rentang Rp1.000-Rp1.140 hari ini.

Saham lain yang menemani ASSA di zona merah adalah saham emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang turun 1,12 persen ke level Rp88 dan saham milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang turun 3,55 persen ke level Rp136 per saham. 

Saham-saham bank KBMI 4 juga kompak melemah sore ini, dengan saham BBNI memimpin pelemahan sebesar 1,59 persen ke level Rp9.300 per saham. 

Lalu saham BBRI melemah 0,92 persen ke level Rp5.375, saham BMRI turun 0,84 persen ke level Rp5.875, dan saham BBCA turun ke zona merah 0,27 persen menjadi Rp9.100.

Sementara itu, saham berkapitalisasi pasar besar seperti AMMN hari ini kembali menguat setelah melemah pada perdagangan kemarin. Saham AMMN naik 5,45 persen ke level Rp5.800. 

Penguatan juga terjadi ke saham TLKM yang naik 0,27 persen ke level Rp3.710, BRPT naik 2,13 persen ke level Rp1.200, dan ADRO yang terangkat 0,36 persen ke Rp2.810 per saham. 

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menuturkan tekanan sentimen eksternal mempengaruhi pergerakan IHSG hari ini. Menurut Pilarmas Sekuritas, pelaku pasar atau investor masih bersikap wait and se seiring dengan data inflasi Amerika Serikat yang akan rilis esok hari dan juga keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pekan ini. 

Menurut Pilarmas Sekuritas data inflasi AS, yang akan dirilis Rabu, dapat menentukan ekspektasi suku bunga global. ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 3,75 persen ketika bertemu pada Kamis.

Sementara itu, Tim Riset Phintraco Sekuritas menuturkan terlepas dari faktor teknikal, pergerakan IHSG pada pekan ini dibayangi oleh antisipasi sejumlah data ekonomi penting. 

Dari eksternal, inflasi AS diperkirakan naik ke 3,6 persen yoy di Agustus 2023 dari 3,2 persen yoy di Juli 2023. Kenaikan inflasi ini kembali memicu spekulasi kenaikan The Fed Rate di FOMC November 2023. 

Dari dalam negeri, pelaku pasar mengantisipasi penurunan nilai ekspor dan impor di Agustus 2023 yang diperkirakan lebih dalam dibanding penurunan di Juli 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper