Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Mampu Menguat di Tengah Kecemasan Suku Bunga dan Rilis Data Inflasi AS

Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Jumat (08/9/2023) di tengah kekhawatiran investor soal suku bunga dan rilis data inflasi AS pekan depan.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA — Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Jumat (08/9/2023) waktu setempat, namun ketiga indeks utama mencatat penurunan mingguan karena investor khawatir terhadap suku bunga yang tinggi dan menunggu dengan cemas pembacaan inflasi AS yang akan datang.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 75,86 poin atau 0,22 persen, menjadi menetap di 34.576,59 poin. Indeks S&P 500 bertambah 6,35 poin atau 0,14 persen, menjadi berakhir di 4.457,49 poin. Indeks Komposit Nasdaq naik 12,69 poin atau 0,09 persen, menjadi menetap di 13.761,53 poin.

Setelah kehilangan 2,9 persen dalam dua sesi, sektor teknologi S&P 500 ditutup menguat. Namun energi, naik 0,97 persen, mencatatkan persentase kenaikan terbesar di antara 11 sektor industri S&P 500 karena kenaikan harga minyak.

Sektor utilitas defensif mengalami kenaikan harian sebesar 0,96 persen sedangkan penurunan terbesar adalah real estat, yang kehilangan 0,63 persen.

Untuk minggu ini, yang dipersingkat karena libur Hari Buruh pada Senin (4/9/2023), indeks S&P 500 tergelincir 1,3 persen, sedangkan Nasdaq kehilangan 1,9 persen dengan keduanya menghentikan kenaikan dua minggunya. Dow turun 0,8 persen.

Investor khawatir terhadap kenaikan harga minyak dan khawatir menjelang Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk Agustus, yang akan dirilis pada 13 September, mencari sinyal mengenai kemungkinan pergerakan suku bunga Federal Reserve.

Sementara para pedagang bertaruh pada kemungkinan 93 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada tingkat saat ini setelah pertemuan berikutnya berakhir pada 20 September, mereka memperkirakan peluang sebesar 53,5 persen untuk jeda lagi pada pertemuan November, menurut alat FedWatch dari CME Group.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun lebih rendah, dan kenaikan imbal hasil obligasi bertenor 2 tahun pada Jumat (8/9/2023) tampaknya memberikan tekanan pada saham. David Lefkowitz, kepala Ekuitas AS di UBS Global Wealth Management, mencatat investor semakin khawatir terhadap kenaikan suku bunga sejak awal Agustus.

"Kondisinya telah berubah dalam beberapa pekan terakhir karena kenaikan suku bunga. Masyarakat mempertanyakan apakah ini merupakan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi. Apakah suku bunga yang lebih tinggi akan menyebabkan perlambatan sehubungan dengan berkurangnya kelebihan tabungan konsumen," kata Lefkowitz, sebagaimana dikutip Antara.

Apple mencatat kenaikan kecil 0,3 persen, meskipun penutupannya di 178,18 dolar AS berada sekitar dua dolar di bawah harga tertinggi sesinya karena reli melemah. Produsen iPhone ini turun tajam dalam dua sesi sebelumnya, menekan sektor teknologi yang lebih luas di tengah berita bahwa Beijing telah melarang pegawai pemerintah pusat menggunakan iPhone di tempat kerja.

Seiring dengan kenaikan harga minyak mentah berjangka selama tiga bulan berturut-turut dan awal yang positif pada September, data ekonomi minggu ini juga memicu kekhawatiran inflasi. Data aktivitas jasa-jasa lebih kuat dari perkiraan dan klaim pengangguran mingguan turun.

“Ekspektasi saya adalah angka IHK bisa lebih tinggi dari perkiraan (dengan) harga minyak yang terdorong lebih tinggi,” kata Phil Blancato, CEO Ladenburg Thalmann Asset Management.

“Kita mempunyai masalah yang pada akhirnya akan membuat The Fed terpojok, dan meskipun mereka mungkin akan mengambil jeda karena efek kelambanan, saya rasa hal tersebut belum selesai.”

Komentar beragam dari pejabat Fed telah memicu ketidakpastian. Presiden Fed New York John Williams tetap membuka pilihannya minggu ini, sementara Presiden Fed Dallas Lorie Logan mengatakan bahwa meskipun "mungkin tepat" untuk mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan berikutnya, pengetatan lebih lanjut mungkin diperlukan.

Di saham individu, Kroger ditutup naik 3,0 persen setelah pengecer tersebut mengalahkan perkiraan laba yang disesuaikan setiap kuartal.

Gilead Sciences bertambah 2,8 persen setelah BofA Securities meningkatkan peringkat produsen obat tersebut menjadi "beli" dari "netral".

GameStop berakhir turun 6,0 persen setelah adanya laporan bahwa Komisi Sekuritas dan Bursa AS sedang menyelidiki ketua pengecer videogame tersebut, Ryan Cohen.

Di bursa AS, 8,89 miliar saham berpindah tangan dibandingkan dengan rata-rata pergerakan 9,96 miliar dalam 20 sesi terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper