Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Diadang Sentimen BUMN Karya, Ini Alasan IDXKBUMN20 Terus Melaju

Indeks saham BUMN atau IDXKBUMN20 terus melaju meski sentimen negatif menerpa BUMN Karya, ini karena besarnya komposisi sektor perbankan di dalam indeks.
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (12/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (12/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks saham BUMN pilihan yakni IDXBUMN20 sepanjang tahun berjalan masih perkasa meski sentimen negatif datang bertubi-tubi menimpa BUMN Karya.

Berdasarkan data Bloomberg hingga Selasa (29/8/2023), IDXBUMN20 menguat 2,95 persen year-to-date (YtD) menuju level 414,76. Dari total 20 konstituen, sebanyak 8 saham membukukan penguatan sementara 12 saham lainnya terkoreksi.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menyatakan bahwa penguatan tersebut tidak terlepas dari besarnya komposisi sektor perbankan di dalam indeks BUMN 20.

Perinciannya, sektor perbankan menyumbang porsi sebesar 51,9 persen, disusul telekomunikasi 18,1 persen, infrastruktur 11,4 persen, pertambangan 10,9 persen, minyak dan gas 5,7 persen, sementara karya hanya menyumbang 1,99 persen.

Keperkasaan IDXBUMN20 setidaknya ditopang oleh tiga saham yaitu BMRI, BBRI, dan JSMR yang memiliki porsi 33,05 persen terhadap indeks. Sepanjang tahun berjalan, ketiga saham ini masing-masing meningkat 19,9 persen, 13,4 persen dan 34,56 persen.

Berlandaskan komposisi tersebut, Alfred berpendapat bahwa performa IDXBUMN20 ke depan masih akan mengandalkan sektor perbankan, infrastruktur, dan sektor telekomunikasi.

“Secara makro, kami masih optimistis berakhirnya kebijakan suku bunga tinggi pada kuartal IV/2023 akan menjadi momentum pemulihan yang bagus bagi pasar saham,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (29/8/2023).

Alfred menilai saham-saham perbankan seperti BBNI dan BBTN, yang sepanjang tahun berjalan masih terkoreksi, bisa menjadi pilihan bagi investor. Begitu pun dengan saham PGAS yang melemah 17 persen YtD dan saham TLKM terkoreksi 0,8 persen YtD.

“Saham-saham tersebut secara performa keuangan atau fundamental masih sangat baik, tetapi harga sahamnya masih terkoreksi dibandingkan penutupan tahun lalu,” pungkasnya.

Dengan kondisi ini, Alfred meyakini indeks saham BUMN pilihan masih cukup prospektif meski kinerja konstituen dari BUMN Karya turun signifikan. Hal ini didorong oleh kuatnya performa konstituen perbankan, serta rendahnya porsi emiten karya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper