Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Belanja Iklan Melunak hingga Transisi Digital Bayangi Kinerja MNCN, SCMA, VIVA

Sederet tantangan diperkirakan masih akan membayangi kinerja emiten MNCN, SCMA, dan VIVA pada semester II/2023
Pegawai beraktivitas di dekat layar yang menampilkan data saham di PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (2/8/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai beraktivitas di dekat layar yang menampilkan data saham di PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (2/8/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Sederet tantangan diperkirakan masih akan membayangi kinerja MNCN, SCMA, dan VIVA pada semester II/2023, mulai dari belanja iklan yang melunak hingga masifnya transisi digital televisi lewat implementasi analog switch off (ASO).

Hingga semester I/2023, pendapatan iklan media seperti PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA), PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN), dan PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) kompak menurun akibat implementasi ASO dan redupnya belanja iklan.

Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan bahwa kebijakan ASO memang telah membuat pendapatan emiten media tergerus. Hal itu pun membuat emiten di sektor ini mendiversifikasi bisnisnya ke arah digital.

Kendati telah melakukan diversifikasi, Nicodemus menyatakan tantangan yang dihadapi kini muncul dari melunaknya belanja iklan atau advertising expenditure (Adex). Kemunculan alternatif iklan berbiaya murah lewat media sosial menjadi alasannya.

Menyitir data Nielsen, Adex Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$4,8 miliar sepanjang 2023. Dari jumlah tersebut, iklan daring menjadi kontributor utama dengan proyeksi mencapai US$2,18 miliar atau 45,5 persen dari total belanja iklan.

“Selain itu, momentum pemulihan di sektor ini juga tidak mudah karena berhubungan dengan kebiasaan yang dibangun selama ini,” tuturnya kepada Bisnis, Rabu (30/8/2023).

Nicodemus berpendapat bahwa ceruk pasar emiten media masih terbuka lebar seiring dengan besarnya pengguna televisi konvensional di daerah. Kendati demikian, internet memiliki peran besar dalam mendorong terjadinya transisi dari konvensional ke digital.

Sementara itu, Direktur SCMA Rusmiyati Djajaseputra sependapat bahwa penurunan belanja iklan e-commerce dan dipangkasnya pengeluaran biaya iklan dari perusahaan multinasional FMCG telah membuat pendapatan perusahaan terkoreksi.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni lalu, pendapatan bersih SCMA turun 4,15 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp3,03 triliun. Melemahnya pendapatan ini didorong oleh turunnya pundi-pundi keuangan dari segmen iklan sebesar 4,85 persen YoY.

“Kami melihat bahwa dampak penurunan belanja iklan ini bukan hanya dari ASO, tetapi juga dari kombinasi makro ekonomi, penurunan belanja iklan dari e-commerce, dan juga cutting spending iklan dari perusahaan multinasional FMCG,” kata Rusmiyati.

Pada paruh kedua tahun ini, Rusmiyati melihat adanya peningkatan belanja iklan dibandingkan dengan semester I/2023. Namun, peningkatan itu dinilai masih rendah jika dikomparasikan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu.

“Kami berharap semester kedua ini dapat membaik walaupun keadaan akan sangat bergantung kepada makro ekonomi dan politik di Indonesia,” pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper