Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bisnis Kurir AnterAja Lesu, Samuel Sekuritas Revisi Target Harga Adi Sarana (ASSA)

Samuel Sekuritas merevisi turun (downgrade) target harga saham emiten Grup Triputra, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA), seiring dengan lesunya bisnis AnterAja.
Motor listrik yang digunakan oleh kurir AnterAja. Samuel Sekuritas merevisi turun (downgrade) target harga saham emiten Grup Triputra, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA), seiring dengan lesunya bisnis AnterAja./istimewa
Motor listrik yang digunakan oleh kurir AnterAja. Samuel Sekuritas merevisi turun (downgrade) target harga saham emiten Grup Triputra, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA), seiring dengan lesunya bisnis AnterAja./istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Samuel Sekuritas Indonesia merevisi turun (downgrade) target harga saham emiten Grup Triputra, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA). Revisi target tersebut seiring dengan performa ASSA yang mengalami penurunan.

Analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan mengatakan, segmen bisnis kurir AnterAja milik ASSA mencatatkan performa yang lesu karena rendahnya permintaan dari e-commerce yang kini mendirikan jasa pengiriman last mile-nya sendiri, sehingga persaingan pengiriman first mile dan last mile akan semakin ketat ke depannya

"Kami melihat bahwa upside untuk ASSA cenderung terbatas, dan kami memperkirakan ASSA akan membukukan kinerja kuartalan yang cenderung lemah," ujar Farras dalam riset dikutip Kamis, (24/8/2023).

Lebih lanjut dia mengatakan, AnterAja sebagai kontributor pendapatan terbesar untuk ASSA mencatatkan 'margin squeeze' dengan rasio opex to sales mencapai 20,7 persen pada semester I/2023.

Selain itu, AnterAja juga mencatat rata-rata pengiriman paket harian sebesar 500.000 paket per hari sehingga menyebabkan penurunan pendapatan. Alhasil, perseroan memutar otak untuk menyiasati hal itu dengan bertaruh pada segmen bisnis rantai pasok beku atau coldchain.

"Untuk mendongkrak pendapatan, manajemen menyoroti bahwa ASSA akan mengandalkan bisnis coldchain, yang menawarkan margin yang lebih baik karena sifat B2B-nya dengan harapan dapat meningkatkan margin konsolidasinya," terangnya.

Kendati masih dalam tahap awal, Samuel Sekuritas masih optimistis bahwa bisnis coldchain dapat membantu ASSA meningkatkan kinerja. Namun, kata dia, AnterAja perlu menemukan cara lain untuk mengerek pendapatan, baik dengan bermitra dengan layanan pengiriman lain untuk mendongkrak pengiriman paket harian atau melakukan efisiensi biaya.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan ASSA akan membukukan pendapatan sebesar Rp4,5 triliun atau turun 22 persen yoy pada 2023, dengan EBITDA sebesar Rp639 miliar dan laba bersih sebesar Rp114 miliar, menyiratkan pertumbuhan EPS sebesar 10,4 persen yoy," kata Farras.

Adapun sepanjang semester I/2023, ASSA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp69,57 miliar, atau turun 39,38 persen secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode sama 2022 sebesar Rp114,78 miliar.

Pendapatan ASSA juga terpantau turun 24,65 persen yoy menjadi Rp2,38 triliun dibanding semester I/2022 sebesar Rp3,17 triliun. Turunnya pendapatan ASSA sejalan dengan penurunan pendapatan dari segmen express delivery akibat dari normalisasi permintaan pengiriman parsel dari e-commerce.

Dengan berbagai faktor tersebut, Samuel Sekuritas merevisi rekomendasi saham ASSA dari BUY menjadi HOLD. Selain itu, target harga saham ASSA juga diturunkan (downgrade) dari Rp1.200 menjadi Rp1.100.

"Dengan rollover valuasi kami ke full year2024, kami menurunkan rating kami menjadi HOLD dengan target price berbasis SOTP sebesar Rp1.100, mengingatnya belum adanya katalis signifikan dan potensi hambatan di masa depan. Risiko utamanya yaitu meningkatnya biaya logistik dan penurunan margin," pungkasnya.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper