Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rugi BUMN Wijaya Karya (WIKA) Rp1,8 Triliun di Semester I/2023

BUMN PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) mencatatkan rugi Rp1,88 triliun pada semester I/2023.
BUMN PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) mencatatkan rugi Rp1,88 triliun pada semester I/2023. Bisnis/Abdurachman
BUMN PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) mencatatkan rugi Rp1,88 triliun pada semester I/2023. Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten BUMN, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) mencatatkan rugi komprehensif yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp1,88 triliun pada semester I/2022, naik dibandingkan tahun lalu Rp13,32 miliar. 

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2023, sejatinya WIKA masih mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp9,25 triliun sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Jumlah tersebut tumbuh sebesar 28,81 persen year-on-year (YoY). 

Namun, pada saat bersamaan, beban pokok pendapatan juga terkerek 29,25 persen YoY atau dari posisi Rp6,55 triliun pada semester I/2022 menjadi Rp8,47 triliun tahun ini. Alhasil akumulasi laba kotor mencapai Rp779,03 miliar, naik 24,20 persen secara tahunan. 

Tak berhenti di sana, emiten BUMN Karya ini juga membukukan sejumlah beban lain. Semisal, beban dari pendanaan yang meningkat dari Rp550,22 miliar menjadi Rp1,23 triliun pada semester I/2023. Hal ini pun membuat rugi sebelum pajak penghasilan mencapai Rp1,98 triliun.

Berkaca dari kinerja keuangan pada paruh pertama tahun ini, Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito menyatakan bahwa perusahaan pelat merah ini tetap mampu beroperasi dengan baik di tengah situasi yang penuh tantangan. 

Hal itu, kata Agung, dibuktikan dengan proses produksi yang tetap berjalan walaupun WIKA berada dalam kondisi standstill sejak April 2023. Sebagai informasi, standstill merupakan penghentian sementara pembayaran kewajiban finansial ke kreditur.

“Dalam kondisi tersebut, WIKA tetap mampu mencatatkan peningkatan penjualan. Hal ini diraih selaras dengan langkah transformasi WIKA yang terdiri dari tiga pilar yaitu fokus terhadap kas, keunggulan eksekusi proyek, dan penyeimbangan portofolio,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (1/8/2023).

Perseroan memerinci peningkatan pendapatan pada semester I/2023 bersumber dari penjualan segmen infrastruktur dan bangunan gedung sebesar 52 persen, disusul dengan industri mencapai 24 persen, EPCC 18 persen dan realti properti mencapai 8 persen. 

Selain itu, WIKA juga mengupayakan penagihan atas beban lain-lain terhadap beberapa proyek yang sudah rampung, termasuk mendorong proses negosiasi lewat jalur hukum guna mendapatkan keputusan final. 

Agung menegaskan bahwa langkah penyehatan dan perbaikan yang sedang dijalankan oleh WIKA saat ini akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini demi mengakselerasi upaya perseroan untuk mampu sustain dan tumbuh dengan baik di masa mendatang.

Di sisi lain, aset WIKA menurun 0,10 persen secara tahunan menjadi Rp72,17 triliun pada semester I/2023. Adapun liabilitas mencapai Rp56,70 triliun atau naik 3,44 persen YoY, sementara ekuitas perseroan menyusut 11,24 persen YoY menjadi Rp15,47 triliun. 

Saldo arus kas setara kas pada akhir periode Juni 2023 juga mengalami penurunan sebesar 44,29 persen YoY, atau dari posisi Rp3,28 triliun menjadi hanya Rp1,83 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper