Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Semarak Emiten Perkapalan, Ini Beberapa Katalisnya

Tren penurunan harga minyak dinilai sebagai sentimen positif bagi emiten perkapalan, meskipun terdapat pula pengaruh dari dinamika ekonomi global.
Kapal-kapal, termasuk yang membawa biji-bijian dari Ukraina dan menunggu inspeksi, berlabuh di lepas pantai Istanbul, Turki. Bloomberg/Getty Images
Kapal-kapal, termasuk yang membawa biji-bijian dari Ukraina dan menunggu inspeksi, berlabuh di lepas pantai Istanbul, Turki. Bloomberg/Getty Images

Bisnis.com, JAKARTA — Sektor pelayaran Bursa Efek Indonesia kedatangan dua anggota baru di tengah sentimen positif tren penurunan minyak dunia, yang menjadi bahan bakar operasional kapal

Analis RHB Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa bisnis perkapalan saat ini memiliki beberapa katalis positif, salah satunya datang dari tren pelemahan harga minyak mentah yang menjadi bahan bakar operasional. 

"Katalis positif paling terasa di emiten pelayaran yang memiliki kapal jenis tug dan barge," ujar Wafi kepada Bisnis, Rabu (19/7/2023). 

Lebih lanjut, Wafi menjelaskan bahwa kondisi industri perkapalan jenis tug dan barge sangat terbatas saat ini karena perlu waktu dua tahun dari pembuatan hingga siap beroperasi. Ketersediaan kapal tidak diimbangi dengan kenaikan produksi batu bara dan tambahan permintaan pengangkutan logistik barang tambang nikel

"Kontrak logistik kapal juga jangka menengah dan panjang sehingga tidak terpengaruh ke harga komoditas sebagai bahan yang diangkut," jelasnya. 

Sementara itu, emiten yang memiliki kapal dengan kapasitas barang lebih besar seperti tanker dan kontainer akan lebih terpengaruh oleh kondisi ekonomi global. 

Meski bertaburan katalis positif, emiten-emiten ini harus dihadapkan dengan tantangan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, likuiditas harga saham yang relatif rendah, dan banyak investor yang masih belum mengenal model bisnis pelayaran. 

Wafi merekomendasikan saham sektor pelayaran seperti PT Habco Trans Maritima Tbk. (HATM) dengan target price Rp530, PT IMC Pelita Logistik Tbk. (PSSI) dengan harga Rp800, serta PT Trans Power Marine Tbk. (TPMA) dan PT Hasnur Internasional Shipping Tbk. (HAIS) dengan target harga yang belum ditetapkan. 

Direktur TPMA Rudi Sutiono mengatakan bahwa dari lima kapal yang dipesan pada 2022, baru 2 set yang datang pada kuartal II/2023. Lima kapal tersebut adalah jenis set tug boat dan tongkang. 

Terkait dengan penurunan harga batu bara yang mempengaruhi pengangkutan, Rudi mengklaim tidak mempengaruhi kinerja TPMA. Hal tersebut karena sampai saat ini kontrak pengangkutan masih berjalan seperti biasa. 

Rudi juga menjelaskan bahwa saat ini aktivitas pelayaran masih cukup baik karena pelanggan TPMA merupakan perusahaan perusahaan besar yang penjualan dan konsumsi batu baranya cukup tinggi. 

"Terkait dengan fluktuasi harga minyak mentah tidak terpengaruh karna cost fuel akan dibebankan ke customer," katanya kepada Bisnis

Sepanjang kuartal I/2023, TPMA meraih peningkatan pendapatan 39 persen dibandingkan 2022 yang berasal dari kontrak-kontrak baru. 

Selain TPMA yang sudah melantai di bursa efek sejak 2013, terdapat satu emiten pelayaran yang baru melantai pada Juni 2023 yaitu PT Pelayaran Kurnia Laut Sejahtera Tbk. (KLAS). Emiten itu IPO dengan harga Rp146 per saham sebanyak 540 juta saham, dan saat ini harganya ada di level Rp103 per saham. 

Ada pula calon emiten PT Humpuss Maritim International Tbk. (HUMI), yang merupakan anak usaha PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS) milik Tommy Soeharto.  

Berdasarkan prospektus, dominasi saham HUMI dimiliki oleh HITS sebesar 89,99 persen atau 13,80 miliar, kemudian PT Humpuss Transportasi Kimia sebesar 1,5 miliar saham atau setara 10 persen, dan Koperasi Karyawan Bhakti Samudra sebesar 0,002 persen atau 330.000 lembar saham. 

HUMI akan menawarkan maksimal 2,70 miliar saham baru yang dikeluarkan dari portepel perseroan, ssetara 15 persen dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO. Nilai nominal saham adalah Rp100 per saham, dan harga penawaran awal sebesar Rp100 hingga Rp150 per saham. 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper