Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Ditutup Melemah, Saham ESSA dan FILM Longsor

IHSG ditutup melemah 0,38 persen atau 25,6 poin ke level 6.660 pada perdagangan Selasa (20/6/2023).
Karyawati beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari pertama perdagangan saham tahun 2023 di Jakarta, Senin (2/1/2023). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari pertama perdagangan saham tahun 2023 di Jakarta, Senin (2/1/2023). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,38 persen atau 25,6 poin ke level 6.660 pada perdagangan Selasa (20/6/2023).

Saham emiten milik Garibaldi Thohir PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA) dan Manoj Punjabi PT MD Pictures Tbk. (FILM) menjadi saham-saham yang melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 197 saham menguat, 338 saham melemah, dan 213 saham stagnan. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 6.626-6.692. Kapitalisasi pasar tercatat turun menjadi Rp9.471 triliun.

Saham dengan penurunan terdalam hari ini adalah saham ESTA yang turun 14,96 persen ke level Rp108, disusul saham NZIA 14,63 persen ke Rp210, dan saham ESSA turun 9,38 persen ke Rp580. 

Selain itu, saham FILM juga tercatat turun 7,86 persen ke level Rp2.930 per saham. Saham-saham lainnya yang juga ikut melemah di antaranya ASII, BMRI, INDF, MDKA, dan ICBP. Masing-masing saham ini turun 1,09 persen, 0,49 persen, 3,38 persen, 3,96 persen, dan 3,38 persen. 

Adapun saham-saham berkapitalisasi pasar besar yang mengalami penguatan adalah PTBA yang naik 1,58 persen ke level Rp3.850, GOTO naik 0,85 persen ke Rp118, dan BBRI yang naik 0,45 persen ke Rp5.550.

Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan tanpa arahan solid dari indeks-indeks global, IHSG rentan melanjutkan koreksinya di Selasa (20/6/2023). 

Menurutnya, pelaku pasar mengantisipasi Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21-22 Juni 2023. RDG BI diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Akan tetapi, pasar perlu mencermati pandangan BI mengenai potensi fluktuasi nilai tukar Rupiah dalam jangka pendek dan pengaruhnya terhadap arah kebijakan moneter BI di tahun 2023 ini.

Faktor lain yang mungkin mempengaruhi RDG BI adalah clue terbaru terkait kenaikan The Fed Rate di tahun 2023. Petunjuk terbaru dari The Fed bahwa kenaikan The Fed Rate mungkin tersisa hanya 2 kali lagi di tahun 2023, menyusul asumsi penurunan inflasi AS ke 3,3 persen yoy di tahun 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper