Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

RUPST Harum Energy (HRUM) Putuskan Tak Bagi Dividen

Harum Energy (HRUM) telah membagikan dividen sebesar Rp1 triliun pada Januari lalu.
Kegiatan operasional di tambang batu bara yang dikelola oleh PT Harum Energy Tbk./harumenergy
Kegiatan operasional di tambang batu bara yang dikelola oleh PT Harum Energy Tbk./harumenergy

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten energi PT Harum Energy Tbk. (HRUM) memutuskan untuk tak membagikan dividen final tahun buku 2022.

Direktur Utama Harum Energy Ray Antonio Gunara mengatakan RUPS Harum Energy hari ini memutuskan untuk tidak membagikan dividen tambahan di luar dividen interim awal tahun ini. 

"RUPS hari ini diputuskan kami tidak membagikan dividen tambahan di luar dividen interim. Jadi total dividen yang dibagikan Rp1 triliun dan sudah dilaksanakan," kata Ray dalam paparan publik HRUM, Jumat (9/6/2023). 

Sebagaimana diketahui, HRUM telah membagikan dividen sebesar Rp1 triliun kepada pemegang saham atau Rp75,10 per saham. Dividen tersebut dibayarkan ke pemegang saham pada 3 Januari 2023 lalu. 

Berdasarkan laporan keuangan 2022, HRUM membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar US$301,75 juta atau setara Rp4,52 triliun pada 2022 (estimasi kurs Rp15.000 per dolar AS). Laba tersebut melejit hingga 306 persen secara year-on-year (yoy) dibanding tahun 2021 yang sebesar US$74,32 juta. 

Pertumbuhan laba HRUM ini ditopang oleh meningkatnya pendapatan 169,03 persen yoy dari US$336,17 juta pada 2021 menjadi US$904,43 juta atau setara Rp13,55 triliun pada 2022.

Apabila dirinci, pendapatan HRUM dari kontrak dengan pelanggan tercatat sebesar US$890,35 juta atau setara Rp13,34 triliun, naik dari tahun 2021 sebesar US$321,98 juta. Pendapatan sewa yang tercatat sebesar US$14,08 juta atau setara Rp211,14 miliar, turun tipis dari tahun 2021 US$14,18 juta.

Berdasarkan segmennya, penjualan batu bara ekspor tercatat sebesar US$794,40 juta atau setara Rp11,90 triliun. Sedangkan, penjualan batu bara lokal sebesar US$95,94 juta atau setara Rp1,43 triliun. 

Selanjutnya, penyewaan alat berat berkontribusi sebesar US$5,05 juta atau setara Rp75,78 miliar, segmen jalan pengangkutan tercatat sebesar US$4,95 juta atau setara Rp74,22 miliar, serta segmen time, freight, dan voyage charter yang sebesar US$4,07 juta atau Rp61,13 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper