Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ditinggal Antam, J Resources (PSAB) Rugi Rp221 Miliar Kuartal I/2023

Selain karena ditinggal Antam, J Resources (PSAB) juga membukukan rugi bersih karena selisih kurs US$8,83 juta.
Aktivitas pertambangan di wilayah operasional PT J Resources Asia Pasifik Tbk./jresource.co.id
Aktivitas pertambangan di wilayah operasional PT J Resources Asia Pasifik Tbk./jresource.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten tambang emas PT J Resources Tbk. (PSAB) membukukan rugi US$14,98 juta atau sekitar Rp221,02 miliar (Asumsi kurs Rp14.746) pada kuartal I/2023. Rugi perseroan salah satunya disebabkan nihilnya penjualan kepada PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam yang menjadi kontributor pendapatan terbesar tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), PSAB membukukan rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$14,98 juta, dibanding kuartal I/2022 yang laba US$668.819.

Penjualan perseroan juga tercatat turun 23,18 persen secara year-on-year (yoy) menjadi US$22,2 juta, dibanding periode tahun sebelumnya sebesar US$28,9 juta.

Secara rinci, kontributor terbesar pendapatan PSAB berasal dari penjualan emas dan perak ke Metalor Technologies Singapore Pte., Ltd senilai US$20,74 juta, kemudian Beijing Fuhaihua Import and Export Corp Ltd sebesar US$1,46 juta pada kuartal I/2023. 

Sementara itu, pada tahun 2022 lalu PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menjadi kontributor terbesar pendapatan PSAB sebesar US$25,86 juta, sedangkan tahun ini nihil.

"Pada 31 Maret 2023, penjualan kepada Metalor Technologies Singapore Pte. Ltd. dan PT Aneka Tambang Tbk masing-masing mencerminkan 93 persen dan 0 persen dari jumlah pendapatan usaha. Sedangkan pada 31 Maret 2022, penjualan kepada Metalor Technologies Singapore Pte. Ltd. dan PT Aneka Tambang Tbk masing-masing mencerminkan 6 persen dan 89 persen dari jumlah pendapatan usaha," tulis manajemen PSAB dikutip Rabu, (10/5/2023). 

Selain karena ditinggal Antam, perseroan juga membukukan rugi bersih karena selisih kurs US$8,83 juta dibanding tahun sebelumnya sebesar US$4,13 juta.

Sementara itu, perseroan berhasil menurunkan beban pokok penjualan sebesar US$8,41 juta dibanding kuartal I/2022 sebesar US$16,51 juta. Beban pokok tersebut terpangkas hampir 50 persen.

Alhasil, laba kotor perseroan naik 11,29 persen yoy menjadi US$13,79 juta, dibanding tahun sebelumnya sebesar US$12,39 juta.

Adapun, biaya produksi PSAB meliputi biaya pertambangan US$5,18 juta, biaya penyusutan US$3,66 juta, biaya pengolahan US$3,89 juta, dan lain-lain.

Berdasarkan neraca, total aset PSAB tumbuh menjadi US$828,21 juta hingga 31 Maret 2023, dibanding posisi akhir Desember 2022 sebesar US$808,23 juta.

Liabilitas perseroan naik menjadi US$462,49 juta dibanding akhir 2022 sebesar US$427,27 juta. Sedangkan ekuitas turun menjadi US$365,71 juta dibanding Desember 2022 sebesar US$380,95 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper