Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Menguat, Saham Teknologi Facebook Cs Moncer

Wall Street menguat karena dorongan saham-saham teknologi seperti Facebook.
Wall Street menguat karena dorongan saham-saham teknologi seperti Facebook. Bloomberg/Michael Nagle
Wall Street menguat karena dorongan saham-saham teknologi seperti Facebook. Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Wall Street menguat pada akhir perdagangan Kamis (27/4/2023). Indeks Nasdaq yang sarat emiten teknologi memimpin reli karena laporan keuangan kuartalan yang kuat dari induk Facebook Meta Platforms Inc mengimbangi kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 524,29 poin atau 1,57 persen, menjadi menetap di 33.826,16 poin. Indeks S&P 500 bertambah 79,36 poin atau 1,96 persen, menjadi berakhir di 4.135,35 poin. Indeks Komposit Nasdaq melonjak 287,89 poin atau 2,43 persen, menjadi ditutup pada 12.142,24 poin.

Sementara S&P dan Dow mencatat kenaikan persentase harian terbesar mereka sejak 6 Januari, Nasdaq membukukan kenaikan satu hari terbesar sejak 16 Maret, mengutip Antara.

Dari 11 sektor utama S&P 500, keuntungan terbesar diraih oleh sektor jasa-jasa komunikasi diikuti oleh konsumer non-primer, naik 2,8 persen, sementara keuntungan terkecil adalah sektor energi yang naik hanya 0,5 persen.

Saham Meta ditutup melonjak 13,9 persen setelah menyentuh level tertinggi mereka dalam lebih dari setahun karena perusahaan memperkirakan pendapatan triwulanan di atas perkiraan, dan CEO Mark Zuckerberg mengatakan AI atau kecerdasan buatan meningkatkan lalu lintas ke layanannya dan meningkatkan penjualan iklan.

Akibatnya, indeks jasa-jasa komunikasi S&P 500 berakhir melonjak 5,5 persen untuk kenaikan persentase satu hari terbesar sejak Februari 2022. Bersama dengan Meta, S&P 500 mendapat dorongan dari Alphabet Inc, yang melaporkan hasil optimis awal pekan ini. sementara Comcast naik 10,3 persen setelah hasil keuangannya mengesankan.

"Laba Facebook tadi malam dan laba perusahaan berkapitalisasi besar yang lebih luas terus naik secara mengejutkan," kata Mona Mahajan, ahli strategi investasi senior di Edward Jones yang berbasis di St. Louis.

"Ada harapan besar untuk menghasilkan laba dengan sektor-sektor ini sudah unggul sehingga ada sedikit keraguan tentang apakah mereka akan mengecewakan. Faktanya, banyak dari model bisnis ini terbukti cukup tangguh," katanya.

Chris Zaccarelli, kepala investasi di Independent Advisor Alliance di Charlotte, North Carolina mencatat bahwa data ekonomi yang dirilis pada Kamis (27/4/2023) menceritakan kisah yang kurang positif dibandingkan laporan laba perusahaan.

Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS melambat lebih dari yang diharapkan pada kuartal pertama karena percepatan belanja konsumen diimbangi oleh bisnis yang mengurangi investasi persediaan.

"Semuanya dianggap sama, data makro pagi ini sangat negatif. Dengan pasar naik sebanyak ini setelah data itu menunjukkan bahwa investor melihat melampaui makro ... Laporan laba sangat bagus. Jelas bukan kegembiraan yang tidak rasional," kata Zaccarelli .

Ekspektasi untuk laba kuartal pertama telah meningkat secara drastis, dengan para analis memproyeksikan penurunan keuntungan 2,4 persen dari tahun ke tahun di perusahaan S&P 500 versus perkiraan penurunan 5,1 persen pada awal musim laporan keuangan, menurut perkiraan para analis yang dikumpulkan oleh Refinitiv.

Baca juga: Saham Jerman berbalik menguat, indeks DAX 40 bangkit 0,03 persen

Bahkan ketika pertumbuhan PDB yang lebih lambat mencerminkan hambatan dari investasi persediaan yang lemah, Federal Reserve masih diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi minggu depan.

“Secara umum perekonomian terlihat melambat. Kami pikir ketika Fed melanjutkan dengan kemungkinan satu kenaikan suku bunga lagi minggu depan, kami akan mulai melihat beberapa perlambatan lagi. Kasus dasar kami adalah untuk penurunan ekonomi ringan di paruh kedua,” kata Mahajan Edward Jones.

Di bursa AS, sebanyak 10,77 miliar saham berpindah tangan dibandingkan dengan rata-rata 10,41 miliar untuk 20 sesi terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Hafiyyan
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper