Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Investor Asing Masuk SBN, Reksa Dana Terimbas

Investor asing memborong Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp42,09 triliun sehingga menjadi sentimen positif bagi reksa dana.
Investor asing memborong Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp42,09 triliun sehingga menjadi sentimen positif bagi reksa dana.
Investor asing memborong Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp42,09 triliun sehingga menjadi sentimen positif bagi reksa dana.

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar obligasi dalam negeri menarik investor asing seiring dengan kondisi makro global yang mendukung. Hal itu turut berimbas positif terhadap industri reksa dana.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) mencatatkan pada periode 2 Januari hingga 24 Januari investor asing memborong Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp42,09 triliun.

Director & Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife AM Ezra Nazula mengatakan obligasi tenor pendek berpeluang dengan ekspektasi Bank Indonesia sudah mendekati atau telah mencapai puncak siklus suku bunga.

“Kami perkirakan kinerja pasar obligasi berpeluang lebih baik dibanding tahun lalu dengan kondisi makro global yang lebih mendukung,” katanya menjawab pertanyaan Bisnis, Kamis (26/1/2023).

Ezra menyebutkan pihaknya melihat obligasi pemerintah dengan tenor sampai 10 tahun memberikan value relatif yang paling menarik.

“Imbal hasil 10 tahun dapat turun ke level 6,5 persen dan berpotensi turun dibawah itu dengan terus meningkat aliran inflow asing,” lanjutnya.

Sementara itu, imbal hasil obligasi Indonesia 10 tahun tercatat meningkat 1,55 persen atau 0,104 poin ke posisi 6,767 per 26 Januari 2023. Hal ini memengaruhi strategi Manulife AM dalam meracik reksa dana.

“Kami menjalankan manajemen aktif untuk reksadana fixed income. Jadi durasi portfolio dinamis bisa banyak tenor panjang, rebalancing ke tenor pendek dan sebaliknya juga untuk dapat menghasilkan hasil optimal untuk investor,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan penurunan yield merupakan berita baik bagi obligasi jangka panjang.

“Penurunan Yield adalah berita bagus, namun cenderung lebih menguntungkan obligasi jangka panjang. Untuk yang jangka pendek (mendekati 1 tahun), yeldnya malah agak naik atau relatif flat,” katanya kepada Bisnis, Kamis (26/1/2023).

Rudiyanto menyebutkan data inflasi US dan Indonesia yang masih melanjutkan tren penurunan atau tidak serta kebijakan Bank Sentral dalam menaikan suku bunga masih menjadi sentimen bagi reksa dana obligasi.

“Strategi bagi investor dengan sentimen terhadap reksa dana obligasi bisa disesuaikan dengan profil risiko,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper