Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonomi Global Dibayangi Resesi, Pasar Modal Indonesia Tetap Menarik

Ketua DK OJK Mahendra Siregar menilai pasar modal Indonesia memiliki daya tarik pasar yang masih kuat meski ada risiko perlambatan ekonomi global.
Ketua DK OJK Mahendra Siregar menilai pasar modal Indonesia memiliki daya tarik pasar yang masih kuat meski ada risiko perlambatan ekonomi global.
Ketua DK OJK Mahendra Siregar menilai pasar modal Indonesia memiliki daya tarik pasar yang masih kuat meski ada risiko perlambatan ekonomi global.

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpandangan sinyal perlambatan ekonomi global pada 2023 bisa menjadi momentum bagi pasar modal Indonesia untuk menjadi generator aliran investasi.

Daya tahan ekonomi nasional yang tetap kuat merupakan magnet bagi investor di tengah perekonomian dunia yang tidak pasti.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengatakan ekonomi nasional diramal tetap dalam jalur pertumbuhan 5 persen pada 2023. Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) kembali memangkas angka proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun tersebut menjadi 2,7 persen dalam outlook terbarunya.

“Sekalipun kondisi global menunjukkan kondisi yang tampaknya terus memburuk, tidak ada perkiraan atau ramalan yang menunjukkan perekonomian Indonesia akan turun lebih kecil dari sebelumnya yakni 5 persen atau lebih,” kata Mahendra dalam pembukaan Capital Market Summit & Expo, Kamis (13/10/2022).

Mahendra mengemukakan pertumbuhan ekonomi yang berlanjut perlu terus dijaga. Namun momentum ini perlu tetap diiringi dengan antisipasi dalam menghadapi risiko yang mungkin muncul akibat perlambatan ekonomi global.

Kondisi sektor dan industri jasa keuangan, lanjutnya, juga telah lebih baik dibandingkan dengan dua tahun pertama pandemi Covid-19. Mahendra mengatakan pemulihan sektor dan industri jasa keuangan memungkinkan sektor tersebut menjaga dan mengawal pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Tidak ada alasan untuk tidak percaya diri. Pemulihan ini menempatkan ekonomi Indonesia di situasi yang baik menghadapi risiko. Sembari menyiapkan antisipasi, kita meningkatkan fokus pada pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata dia.

Resiliensi ekonomi nasional tidak lepas dari kontribusi konsumsi domestik dan aktivitas ekonomi berorientasi dalam negeri yang tetap kokoh. Mahendra mengatakan struktur ekonomi Indonesia saat ini justru memberi keuntungan di tengah risiko perlambatan ekonomi global.

Sebagaimana diketahui, rata-rata kontribusi konsumsi domestik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 56 persen setiap tahunnya. Sementara itu, ekspor menyumbang sekitar 21 persen.

“Di tengah kondisi ekonomi global yang memburuk, situasi tadi, fakta bahwa Indonesia tidak terlalu terekspos ke ekonomi dunia justru menjadi blessing in disguise kepada ekonomi Indonesia untuk lebih mengandalkan pertumbuhan dan pembangunan kekuatan di dalam negeri,” lanjut Mahendra.

Dalam konteks ini, Mahendra menilai pasar modal memiliki posisi strategis karena bisa memfasilitasi masuknya kapital atau investasi baru, seiring dengan daya tarik pasar yang masih kuat.

“Saat seluruh dunia menghadapi situasi yang sulit, jika ada ekonomi yang bisa bertahan dan tetap tumbuh baik menjaga keberlanjutannya, justru akan mencolok dan menjadi pengecualian yang istimewa. Dalam konteks itu tanpa banyak promosi, investasi akan justru datang dengan sendirinya,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman mengatakan masih solidnya daya tarik pasar Indonesia terlihat dari nilai beli bersih (net buy) investor asing yang mencapai Rp72,46 triliun per 12 Oktober 2022. Nilai ini hampir dua kali lipat lebih tinggi dari net buy sepanjang 2021 sebesar Rp37,97 triliun.

“Ini menunjukkan Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor,” kata Iman.

Di sisi lain, pertumbuhan jumlah investor pada 2022 juga berlanjut dengan tambahan investor sampai 11 Oktober 2022 mencapai 2,3 juta Single Investor Identification (SID). Total jumlah investor mencapai 9,8 juta SID di mana 4,3 juta di antaranya adalah investor saham.

Tak hanya jumlah investor, Iman mengatakan bursa saham Indonesia juga mencatat kehadiran 44 perusahaan tercatat baru. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tetap tumbuh 6,51 persen secara year to date dan sempat mencapai rekor tertingginya di 7.318 pada 13 September 2022.

“Kinerja ini cukup menggembirakan di tengah performa sebagian besar bursa dunia yang menunjukkan kinerja negatif,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper