Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Ditutup Anjlok, Saham BUMI Mentereng saat BBCA-BBRI Turun

IHSG ditutup turun 0,7 persen atau 49,84 poin menjadi 7.026,78 seiring dengan tekanan saham big caps.
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/10/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/10/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah mengikuti tekanan bursa global akibat rencana The Fed mengerek suku bunga lanjutan.

IHSG ditutup turun 0,7 persen atau 49,84 poin menjadi 7.026,78. Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 7.008,14-7.081,01.

Terpantau 360 saham turun, 178 saham naik, dan 152 saham stagnan. Total transaksi Rp11,8 triliun jelang penutupan.

Saham BUMI menjadi yang paling banyak diperdagangkan Rp1,3 triliun. Saham BUMI naik 14,11 persen menjadi Rp186.

Sementara itu, saham BBCA dengan transaksi terbesar kedua Rp928,3 miliar, tetapi sahamnya turun 2,67 persen menjadi Rp8.200. Setelah itu, saham BBRI terkoreksi 1,55 persen ke Rp4.440. Saham TLKM, ASII, BBRI juga turun 1,55 persen, 1,81 persen, dan 1,89 persen.

Direktur MNC Asset Management Edwin Sebayang mengungkapkan investor tengah menunggu release data bulanan Nonfarm Payrolls Jumat ini dan statement Chicago Fed President Charles Evans pada Kamis, The Fed diindikasikan akan menaikan Fed Fund Rate (FFR) sekitar 125 bps hingga akhir tahun 2022.

"Kedua hal ini menjadi faktor Indeks DJIA kembali terjungkal turun pada hari kedua 1,15 persen berpotensi menjadi sentimen negatif bagi perdagangan di Bursa Indonesia Jumat ini," jelasnya dalam riset, Jumat (7/10/2022).

Menurutnya, jika kejatuhan DJIA dikombinasikan dengan kejatuhan EIDO sebesar 0,42 persen padahal IHSG ditutup menguat kemarin dan turunnya harga beberapa komoditas seperti emas.

Kemudian, kembali kembali naiknya yield Obligasi AS tenor 10 tahun sebesar 1,95 persen ke level 3,828 persen serta kembali menguatnya USD Indeks ke level 112.205 berpotensi menjadi tambahan sentimen negatif bagi perdagangan di Bursa Indonesia Jumat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper