Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Hero Supermarket (HERO) Ungkap Ada Aset Tidak Lancar Imbas Penutupan Giant

Pendapatan HERO pada periode 31 Desember 2021 turun dibandingkan dengan periode 30 September 2021, yakni dari Rp4,44 triliun menjadi Rp3,48 triliun.
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019)./Bisnis-Triawanda Tirta Aditya
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019)./Bisnis-Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA — PT Hero Supermarket Tbk. (HERO), perusahaan pengelola jaringan toko swalayan Hero dan IKEA, mengungkapkan adanya aset tidak lancar sebesar Rp152,73 miliar dalam laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2021. Akun tersebut tidak tertera dalam laporan keuangan kuartal III/2021 yang diumumkan perusahaan.

Sekretaris Perusahaan Hero Supermarket Iwan Nurdiansyah menjelaskan aset tidak lancar tersebut berasal dari penutupan operasional Giant. Dia mengatakan perusahaan tidak menyajikan pengungkapan terpisah atas akun tidak lancar tersebut karena jumlahnya setara 3 persen dari total aset sebesar Rp4,52 triliun.

Berdasarkan kajian dan pertimbangan manajemen sesuai dengan ketentuan dalam PSAK 58, Iwan mengatakan operasi Giant baru diklasifikasikan sebagai operasi yang dihentikan sejak kuartal IV/2021. Alasannya, pada periode tersebut penyelesaian atas sebagian besar aktivitas-aktivitas dan biaya terkait dengan penutupan operasi Giant telah selesai dilakukan.

“Adapun aktivitas-aktivitas dan biaya terkait tersebut adalah biaya konsultan, negosiasi dengan tenant, dan finalisasi rencana penjualan/penyewaan/pengembalian kepada landlord atas properti-properti terkait operasi Giant,” kata Iwan melalui penjelasan di Bursa Efek Indonesia yang dikutip Minggu (17/4/2022).

Dia mengatakan pencantuman akun penutupan operasi Giant berdampak pada semua akun neraca yang berhubungan dengan usaha Giant. Beberapa akun yang terdampak signifikan adalah piutang usaha, utang usaha, persediaan, aset tetap, aset tersedia untuk dijual, biaya dibayar dimuka, akrual, provisi, dan liabilitas sewa.

Hal ini lantas berdampak pada pendapatan HERO pada periode 31 Desember 2021 yang turun dibandingkan dengan periode 30 September 2021, yakni dari Rp4,44 triliun menjadi Rp3,48 triliun.

“Ini disebabkan oleh penyajian operasi bidang usaha Giant yang dihentikan pada Desember 2021, di mana secara laporan keuangan disajikan dalam catatan tersendiri (catatan 8), sehingga terlihat penurunan nilai pendapatan dibandingkan kuartal III/2021,” tambahnya.

Sesuai dengan PSAK 58 p.34, perusahaan harus menyajikan kembali hal-hal terkait dengan seluruh operasi yang dihentikan pada periode sebelumnya. Sehingga dalam laporan laba rugi konsolidasian 31 Desember 2021, pendapatan yang berasal dari operasi Giant disajikan terpisah sebagai pendapatan dari operasi yang dihentikan sejak periode 2021 dan periode komparatif 2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper