Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mayoritas Indeks Wall Street Menguat, S&P 500 Dekati Level Tertinggi

Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,37 persen ke 4.536,19 dan Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,43 persen ke 35.609,34.
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat./Bloomberg
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat melanjutkan reli penguatan di hari keenam berturut-turut pada Rabu (20/10/2021). Indeks S&P 500 pun ditutup mendekati level tertinggi sepanjang masa.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,37 persen ke 4.536,19 dan Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,43 persen ke 35.609,34. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite dituutp melemah 0,05 persen ke 15.121.68.

Indeks menguat karena investor tengah menimbang laporan kinerja emiten perusahaan terhadap risiko dari tekanan inflasi. Verizon Communications Inc. dan Anthem Inc. menguat menyusul rilis kinerja yang lebih baik dari perkiraan. Sementara itu, Novavax Inc. jatuh karena penundaan vaksin, dan Netflix Inc. melemah menyusul prospek yang mengecewakan.

Laporan kinerja emiten yang solid telah membantu mengatasi kekhawatiran yang berasal dari peningkatan inflasi, yang mendorong saham lebih tinggi. Sementara itu, seham terkait aset kripto juga menguat karena Bitcoin menyentuh level tertinggi sepanjang masa.

Co-head of Investment Stretegy bersnstein Private Wealth Management Beata Kirr mengatakan meskipun saat ini laporan keuangan emiten cenderung positif, diperkirakan musim laporan kali ini akan lebih fluktuatif daripada beberapa musim terakhir.

Beberapa kuartal terakhir telah mencatat pendapatan meningkat 45 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan konsensus untuk tahun 2022 memperkirakan kenaikan 9 persen year-on-year (yoy).

“Sekarang masih positif. Dan itulah salah satu fondasi fundamental yang benar-benar mendorong pasar ekuitas ke depan,” ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (20/10/2021).

Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun sedikit berubah karena kinerja pendapatan emiten telah mencuri fokus investor dari kekhawatiran tentang stagflasi, atau kombinasi dari pertumbuhan yang lebih rendah dan inflasi yang lebih tinggi.

Namun, kekhawatiran atas pemulihan ekonomi dalam menghadapi biaya energi yang lebih tinggi, gangguan rantai pasokan, global dan berkurangnya dukungan bank sentral masih membayangi prspek pertumbuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper