Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Incar Cuan di Saham Blue Chip? Bisa Pakai Strategi Buy on Weakness

Buy on weakness adalah membeli saham di harga rendah, namun berprospek mengalami kenaikan kembali dalam jangka pendek.
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Setiap koreksi harga saham blue chip dapat digunakan untuk investor meraih cuan.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan investor dapat memasang strategi buy on weakness ketika IHSG sedang bullish seperti sekarang. Akan tetapi, Wawan lebih merekomendasikan saham-saham big caps karena menjadi favorit investor asing.

“Investor bisa memanfaatkan buy on weakness bila ada koreksi, saat ini minat investor terutama asing masih pada blue chip,” katanya kepada Bisnis pada Rabu (13/10/2021).

Buy on weakness atau BoW menjadi istilah yang cukup populer bagi praktisi pasar modal. Arti buy on weakness adalah membeli saham di harga rendah, namun berprospek mengalami kenaikan kembali dalam jangka pendek.

Ini adalah salah satu strategi dalam perdagangan di bursa saham, di mana investor membeli saham pada saat harganya mencapai level support dan cenderung aman untuk dibeli. Pengertian lainnya adalah beli di saat harga sahamnya sedang “diskon”.

Namun, tidak semua saham yang tengah turun layak dibeli dan dilabeli buy on weakness. Di sinilah peran analisis fundamental  dan teknikal bekerja untuk bisa menarik kesimpulan apakah suatu saham itu layak BoW atau tidak.

Sementara untuk saham-saham kategori kedua dan ketiga bisa menjadi diversifikasi bagi para investor. Selain itu, investor jangka pendek bisa mempertimbangkan aksi profit taking pada bulan Desember ketika momentum windows dressing.

Di sisi lain, Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan para investor dapat mulai membeli ketika suatu saham tengah terkoreksi. Akan tetapi, investor diharapkan dapat memperhatikan indicator MA periode 20 sebelum melakukan aksi beli.

“Investor bisa menggunakan indikator MA periode 20, jadi kalau saham tersebut sedang pull back tapi masih di atas MA20 investor bisa buy on weakness,” katanya kepada Bisnis pada Rabu (13/10/2021).

Indikator MA atau moving average adalah pergerakan rata-rata dari sebuah saham dalam waktu rentang tertentu. Sementara 20 menunjukkan rentang waktu tersebut yakni 20 hari kebelakang. Sehingga investor diharapkan mencermati pergerakan saham tertentu dalam 20 hari kebelakang sebelum membeli.

Selain 20, investor juga dapat mencermati rentang waktu yang lazim dipakai untuk menganalisis. Misalnyal 5 hari, 20 hari, 60 hari, atau 120 hari. William pun mengingatkan agar investor jangan diburu nafsu ketika ingin mengolek saham teretntu.

“Chart naik tapi jangan sembarangan beli untuk menghindari ‘nyangkut’,” imbuhnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper