Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Tertekan Sektor Teknologi, Indeks Nasdaq Anjlok 2 Persen

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,94 persen ke level 34.002,92, sedangkan indeks S&P 500 turun 1,3 persen ke 4.300,46 dan indeks Nasdaq 100 merosot 2,16 persen ke 14.472,12.
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021)./Bloomberg
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021)./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (4/10/2021), menyusul aksi jual saham teknologi di tengah ancaman inflasi yang terus tinggi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,94 persen ke level 34.002,92, sedangkan indeks S&P 500 turun 1,3 persen ke 4.300,46 dan indeks Nasdaq 100 merosot 2,16 persen ke 14.472,12.

Pelemahan didorong oleh sejumlah saham teknologi besar seperti Amazon.com. Saham Facebook Inc. anjlok 4,89 persen setelah layanan Facebook, Whatsapp, dan Instagram tidak bisa diakses oleh pengguna dalam beberapa jam terakhir.

Sementara itu, saham-saham produsen vaksin melemah setelah Merck & Co. mengumumkan mengenai obat perawatan Covid-19 yang efektif. Saham energi menguat seiring kenaikan harga minyak.

"Ada dinding kekhawatiran bahwa pasar sedang mencoba untuk naik saat ini," kata analis Deutsche Bank Jim Reid, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (5/10/2021).

“Kami mengalami krisis energi, masalah rantai pasokan, inflasi yang lebih tinggi, tanda-tanda pertumbuhan yang lebih lemah, dan banyak pembicaraan tentang stagflasi,” lanjutnya.

Pasar saham global telah mengambil langkah risk-off di tengah sejumlah kekhawatiran yang berkembang. Investor juga telah bersiap menghadapi langkah Federal Reserve untuk mengurangi stimulus pada awal bulan depan. Inflasi

yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil Treasury AS membuat investor menilai saham dengan pertumbuhan tinggi menjadi kurang menarik. Risiko pendapatan juga mungkin lebih tinggi untuk beberapa perusahaan teknologi.

"Saham teknologi kemungkinan besar terkena pukulan paling keras karena suku bunga yang lebih tinggi berarti tingkat diskonto yang lebih tinggi untuk pendapatan masa depan," kata kepala manajemen investasi Commonwealth Financial Network Brian Price.

"Saya berharap dinamika ini akan berlanjut selama ekspektasi inflasi tetap tinggi," pungkasnya.

Kekhawatiran akan penyebaran krisis energi juga menambah kekhawatiran terhadap inflasi, dengan harga listrik dan gas Eropa melonjak sebelum awal musim dingin. Kontrak listrik untuk November di Jerman mencapai rekor sementara gas alam berjangka melanjutkan reli.

Sementara itu, harga minyak mentah di New York melonjak ke level tertinggi sejak 2014 setelah OPEC+ menyetujui kenaikan produksi untuk November.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper