Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Emas Naik, Investor Tunggu Data Inflasi AS

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di Divisi Comex New York Exchange, naik US$2,3 atau 0,13 persen, menjadi ditutup pada US$1.794,4 per ounce.
Ilustrasi emas batangan/ Bloomberg
Ilustrasi emas batangan/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga logam mulia emas naik pada akhir perdagangan Selasa pagi waktu Asia (14/9/2021), menjelang rilis inflasi yang dapat menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) di tengah kekhawatiran investor tentang penyebaran Covid-19.

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di Divisi Comex New York Exchange, naik US$2,3 atau 0,13 persen, menjadi ditutup pada US$1.794,4 per ounce. Namun, harga emas berjangka masih berada di bawah level psikologis US$1.800 untuk hari kedua berturut-turut.

Akhir pekan lalu, Jumat (10/9/2021), harga emas berjangka merosot US$7,9 atau 0,44 persen menjadi US$1.792,10, setelah terangkat US$6,5 atau 0,36 persen menjadi US$1.800 pada Kamis (9/9/2021), dan jatuh US$5 atau 0,28 persen menjadi US$1.793,50 pada Rabu (8/9/2021).

Fokus investor berada pada indeks harga konsumen bulanan AS, ukuran inflasi Fed, yang akan dirilis pada Selasa (14/9/2021) waktu setempat. Angka penjualan dan produksi ritel Agustus juga akan dirilis dalam minggu ini.

"Penekanan The Fed adalah pada lapangan kerja dan tidak terlalu khawatir tentang inflasi, mengandaikan sikap akomodatif yang positif untuk emas," kata Kepala Strategi Komoditas TD Securities Bart Melek.

Melek mengatakan akan sulit bagi emas untuk lepas landas karena dolar tetap kuat, menjaga perhatian pasar pada apa yang akan dilakukan Fed dalam pertemuan berikutnya dari 21 hingga 22 September.

Emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang tetapi juga bersaing dengan greenback untuk status safe-haven. Sementara itu, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya mencapai tertinggi multi-minggu pada Senin (13/9/2021), membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan pada Jumat (10/9/2021) bahwa dia masih ingin bank sentral mulai mengurangi pembelian aset tahun ini, bergabung dengan pembuat kebijakan yang menyatakan rencana untuk mulai mengurangi dukungan (stimulus) meskipun pertumbuhan pekerjaan melemah pada Agustus.

Citi Research, dalam sebuah catatan, menegaskan bahwa pihaknya mempertahankan bias yang sedikit hawkish menjelang pertemuan Fed 21 September, tetapi kejutan dovish dapat memungkinkan harga emas menembus lebih tinggi menuju US$1.900.

Investor juga khawatir bahwa tidak cukup kemajuan telah dibuat dalam menghentikan penyebaran Covid-19 dan dalam memvaksinasi populasi AS dan populasi dunia terhadap Covid-19.

Berbanding terbalik dari emas, logam mulia perak untuk pengiriman Desember turun 10,4 sen atau 0,44 persen, menjadi ditutup pada US$23,796 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober naik US$1 atau 0,1 persen, menjadi ditutup pada US$957,5 per ounce.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper