Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Komoditas Memanas, Wall Street Bergairah di Awal Perdagangan

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,55 persen ke level 34.795,20, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,14 persen ke 4.464,89.
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat./Bloomberg
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menguat pada awal perdagangan Senin (13/9/2021), didorong emiten tambang menyusul penguatan sejumlah komoditas, termasuk minyak mentah dan aluminium.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,55 persen ke level 34.795,20, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,14 persen ke 4.464,89.

Emiten sektor energi memimpin kenaikan penguatan setelah minyak mentah melanjutkan reli ke level tertinggi enam pekan. Sementara itu, logam industri naik, dengan aluminium mencapai level US$3.000 per ton di London untuk pertama kalinya dalam 13 tahun di tengah gangguan pasokan.

OPEC memperkirakan permintaan minyak mentah yang lebih kuat menyusul kombinasi peningkatan konsumsi bahan bakar global dan gangguan produksi.

Sementara itu, dolar AS menguat dan imbal hasil Treasury AS bergerak tipis menjelang rilis data inflasi pada hari Selasa. Investor menantikan data ini untuk mempertimbangkan kembali ekspektasi alur pengurangan stimulus The Fed dan kenaikan suku bunga.

Analis Deutsche Bank AG Jim Reid mengatakan angka inflasi akan menjadi sorotan utama pekan ini menjelang paruh kedua September yang penuh dengan politik, menyusul pemilu Jerman dan batas waktu plafon utang AS.

Di sisi lain, saham teknologi China jatuh setelah sebuah laporan bahwa para pejabat berusaha untuk memisahkan Alipay dari Ant Group Co. Platform online negara itu juga diperintahkan untuk melindungi hak-hak pekerja.

Pasar saham global sejauh ini telah didukung oleh laporan pendapatan yang kuat serta pemulihan dari resesi resesi yang disebabkan oleh pandemi. Dengan valuasi yang semakin melebar, sentimen memburuk selama beberapa minggu terakhir, di tengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi dapat terhenti karena varian delta virus corona mengganggu pemulihan.

“Valuasi pasar saham saat ini tidak memberikan bantalan yang cukup untuk beberapa tekanan jangka pendek, termasuk potensi kenaikan pajak, proyeksi kinerja yang negatif, dan tapering the Fed,” kata kepala investasi di Treasury Partners, Richard Saperstein, seperti dikutip Bloomberg, Senin (13/9/2021).

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia Patrick Harker mengatakan dia mendukung proses tapering lebih cepat dari yang direncanakan sebelumnya.

Sementara itu, rencana pajak dan pengeluaran Presiden Joe Biden senilai US$3,5 triliun menghadapi tantangan. Senator Demokrat Joe Manchin telah meragukan alur waktu agenda ekonomi Biden di Kongres, dan mengusulkan agar tarif pajak agar diturunkan untuk meningkatkan peluang paket stimulus tersebut disahkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper