Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Turun,  Laba Bersih Indo Kordsa (BRAM) Tergerus

Penjualan ekspor turun hingga 13 persen
Pabrik PT Indo Kordsa Tbk/www.indokordsa.com
Pabrik PT Indo Kordsa Tbk/www.indokordsa.com

Bisnis.com, JAKARTA – PT Indo Kordsa Tbk. mencatat penurunan laba bersih sebesar 20,44 persen menjadi US$13,5 juta sepanjang 2019 seiring dengan penurunan penjualan.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan perseroan, Jumat (27/3/2020), produsen kain benang, nylon & polyester, dan benang serat industri itu meraup pendapatan sebanyak US$245,61 juta pada 2019, turun 7,1 persen secara tahunan. 

Penurunan penerimaan ini terjadi baik dari sisi penjualan barang lokal maupun aktivitas ekspor emiten. Penjualan di pasar domestik turun tipis menjadi US$121,37 juta. Sementara itu, penjualan untuk pasar ekspor mengalami penurunan 13,07 persen dari  US$143,14 pada 2018 menjadi US$124,42 juta pada 2019.

Sebagaimana diketahui, Indo Kordsa memproduksi benang Nylon 66 dan Polyester HMLS untuk produksi kain ban. Perusahaan ini juga memproduksi benang Nylon 66 dan Polyester HMLS untuk produksi kain ban yang memperkuat kekuatan dan fleksibilitas ban

Di sisi lain,  BRAM berhasil menekan angka liabilitas baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Total liabilitas jangka pendek BRAM pada 2019 berada di angka US$33,43 juta, lebih rendah dibandingkan tahun 2018 senilai US$50,45 juta

Penurunan tersebut disebabkan oleh pembayaran pinjaman bank dari PT Bank Permata Tbk senilai US$7 juta. Emiten mendapat fasilitas omnibus revolving loan dari PT Bank Permata Tbk yang telah dilunasi oleh BRAM.

Sementara itu, total liabilitas jangka panjang pada 2019 adalah sebesar US$25,39 juta, atau sedikit menurun dari total pada 2018 sebesar US$25,58 juta. Secara keseluruhan, total liabilitas BRAM adalah senilai US$58,82 juta, atau turun 22,63 persen dari tahun 2018 sebesar US$76,03 juta.

Adapun kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi atau capital expenditure (capex) mengalami penurunan sebesar 22,74 persen dari US$5,54 juta pada 2018 menjadi senilai US$4,28 juta pada 2019.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper