Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Volatilitas Tinggi bisa Dinginkan Kembali Harga Kopi

Sejak akhir September 2019, harga kopi sudah melonjak 28 persen.
Pekerja menjemur biji kopi Arabika gayo hasil musim panen akhir tahun 2019 di lapangan desa, Bandar Baro, Aceh Utara, Aceh, Kamis (19/12/2019)./ ANTARA - Rahmad
Pekerja menjemur biji kopi Arabika gayo hasil musim panen akhir tahun 2019 di lapangan desa, Bandar Baro, Aceh Utara, Aceh, Kamis (19/12/2019)./ ANTARA - Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA — Volatilitas harga kopi yang sangat tinggi pada akhir 2019, menimbulkan kekhawatiran di para analis karena cemas penguatan yang terjadi dapat segera berbalik arah dan mengacaukan prospek yang cerah bagi komoditas tersebut pada awal tahun depan.

Berdasarkan data Bloomberg, harga biji kopi arabika di bursa New York telah melonjak 28 persen sejak akhir September 2019, menjadi kinerja kuartalan terbaik sejak 2014 dan kenaikan terbesar di antara komoditas utama dalam 3 bulan terakhir. Sepanjang tahun berjalan 2019, harga telah bergerak menguat 27,05 persen.

Penguatan ini didorong oleh cuaca buruk yang mengancam produksi di Brasil, produsen dan eksportir kopi terbesar dunia. Akibatnya, analis pun mulai memprediksi pasar akan bergeser mengalami defisit pasokan, membantu mendorong rebound dari keterpurukan harga kopi pada awal tahun ini.

Sebagai informasi, pada awal tahun ini, banyak analis yang memperkirakan 2019 menjadi tahun yang buruk bagi kopi. Pada pertengahan tahun, harga kopi sempat anjlok ke level terendah dalam 13 tahun di level US$0,95 per pon sehingga mendorong banyak petani kopi keluar dari industri dan mencari mata pencaharian baru.

Mengacu pada laporan Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization/ ICO) Oktober 2019, produksi kopi dunia pada 2019/2020 diproyeksikan 0,9 persen lebih lemah menjadi 167,4 juta kantong dari 169 juta kantong pada periode sebelumnya. Satu kantong setara dengan 60 kilogram (kg) kopi atau 132 pound.

Jika diperinci, produksi jenis arabika melemah 2,7 persen menjadi 95,68 kantong, sedangkan robusta hanya tumbuh 1,5 persen menjadi 71,72 juta kantong.

Pasokan yang lebih lemah itu telah membantu kopi keluar dari zona merah. Namun, penguatan yang mengejutkan tersebut terjadi dengan ukuran volatilitas yang cukup tinggi, yaitu membuat kopi melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 4 tahun ke level US$1,42 per pon.

Ahli Strategi Pasar RJO Futures Chicago Josh Graves mengatakan pasar kopi telah berlari terlalu cepat, yang secara teknikal cenderung tidak baik. Saat ini, harga dikhawatirkan akan segera berbalik arah dan prospek cerah gagal untuk dipegang kopi pada 2020.

“Dalam jangka pendek, volatilitas tampaknya masih akan tinggi. Pasar harus berhati-hati terhadap hal ini,” ujarnya seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (26/12/2019).

Pada perdagangan Selasa (24/12), harga kopi arabika di bursa New York ditutup di level US$1,29 per pon, menguat 3,27 persen atau 4,1 poin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Annisa Margrit

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper