JAKARTA: Pebisnis otomotif menilai proyek pengembangan mobil hibrid di dalam negeri pada dasawarsa mendatang semakin mendesak lantaran pasokan bahan bakar fosil dunia yang terus menipis.
Selain itu, teknologi mobil hibrid diyakini semakin dibutuhkan karena kemampuannya dalam mereduksi emisi CO2 di udara. Dengan keadaan itu, hibrid diprediksi dapat menggantikan teknologi kendaraan bermotor konvensional yang hanya menggunakan satu sumber tenaga.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman M. Rusdi optimistis mobil hibrid akan menjadi tren di industri otomotif paling cepat pada dasawarsa mendatang asalkan didukung kebijakan pemerintah jelas dan terarah.
Mobil hibrid merupakan kendaraan dengan dua sumber tenaga yakni BBM dan listrik sebagai motor penggerak yang menghasilkan emisi CO2 lebih sedikit.
Namun, mobil hibrid di Indonesia sejauh ini dinilai masih kalah pamor dengan mobil konvensional karena pasar belum memihak produk ini karena layanan purnajualnya (after sales) dipertanyakan. Pada sisi lain, pemerintah baru serius mengembangkan kendaraan ini pada 2020.
Sudirman mengakui bea masuk mobil hibrid yang diimpor secara utuh (completely built up/CBU) saat ini masih sangat besar yakni 40% dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 20% - 75%.
Rendahnya dukungan membuat harga mobil hibrid semakin tak terjangkau. “Kecuali kalau pemerintah memberikan insentif khusus seperti subsidi, keringanan bea masuk dan perbaikan infrastruktur, harganya mungkin bisa bersaing,” katanya Minggu 4 Maret 2012.
Berdasarkan peta jalan (road map) industri otomotif yang disusun Kementerian Perindustrian, Indonesia ditargetkan menjadi basis investasi dan produksi mobil hibrid pada 2020 setelah pasar hibrid berkembang signifikan pada rentang 2012 – 2020. (Bsi)