Pada Agustus lalu, Amerika Serikat berang lantaran peringkat utang negara Paman Sam itu diturunkan dari AAA menjadi AA+ oleh lembaga pemeringkat, Standard & Poors.
Tidak berhenti di situ. AS membawa kasus ini untuk diselidiki oleh Departemen Kehakiman. Sejumlah tuduhan atas kredibilitas lembaga pemeringkat itu pun mengalir. Hasil kajian salah satu anak perusahaan McGraw-Hill yang merupakan perusahaan pemeringkat atas saham dan obligasi itu dituding tidak akurat.
Mengapa AS sebegitu marahnya? Asal tahu saja, penurunan rating oleh lembaga pemeringkat bisa berdampak pada banyak hal di antaranya gejolak pasar saham global dan meningkatnya biaya pinjaman AS karena tingkat bunganya mengalami kenaikan.
Kalau sudah begitu, AS bisa saja terjerembab kembali ke dalam pusaran krisis finansial. Jadi wajar saja kalau kuping AS panas. Untung bagi AS, risiko downgrade tak sampai masuk ke ranah politik sehingga pamor Barrack Obama tak sampai turun.
Pekan lalu, Standard & Poors kembali melakukan aksinya. Setelah sempat mengingatkan akan menurunkan peringkat sejumlah negara di kawasan euro pada awal Desember, S&P kemudian menepati janjinya. Seperti dikutip dari Bloomberg, ada sembilan negara yang peringkatnya diturunkan yaitu Prancis, Austria, Siprus, Italia, Portugal, Spanyol, Malta, Slovakia, dan Slovenia.
Peringkat Prancis dan Austria diturunkan satu level dari AAA menjadi AA+ dengan outlook negatif sementara Siprus, Italia, Portugal, dan Spanyol diturunkan dua level. Adapun Malta, Slovakia, dan Slovenia diturunkan satu level.
Masuknya Prancis dalam jajaran sembilan negara euro yang diturunkan peringkat tersebut sungguh sebuah kejutan dan tentu saja tak terduga karena merupakan pertama kalinya.
S&P yang pertama kali mengevaluasi rating utang Prancis pada Juni 1975 dengan memberikan peringkat AAA, mengungkapkan downgrade atas negara itu dan delapan negara lainnya dipicu oleh minimnya aksi atau upaya yang ditempuh oleh para pemimpin di negara tersebut dalam mengatasi risiko sistemik krisis utang Eropa ke wilayahnya. Namun benarkah, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy kurang aksi?
Paling gigih
Selama ini, selain Jerman, Prancis termasuk negara yang paling gigih melakukan serangkaian upaya penyelamatan atas krisis utang yang bermula dari Yunani itu. Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel, dikenal dengan duet Merkozy, disebut-sebut sebagai tokoh kunci dalam penanganan krisis utang Eropa.
Sayangnya, ketika rating Prancis turun, peringkat Jerman justru bertahan pada level AAA, sehingga menempatkan Jerman sebagai satu-satunya negara di kawasan euro dengan peringkat paling tinggi. Dalam hal ini, tidak berlebihan jika dikatakan Jerman menjadi pemenang murni.
Jelas sekali, pemangkasan rating tersebut akan merusak reputasi Sarkozy. Posisinya sebagai pemain kunci bersama Merkel (Franco-Jerman) dalam mengakhiri krisis utang meredup.
“Sarkozy telah membangun image menjadi kandidat pemimpin paling kredibel dan paling pasti dalam mengatasi krisis,” kata Emmanuel Riviera, analis politik. “Kini sulit untuk mengatakan bahwa dia pasangan yang selevel bersama Merkel dalam memerangi krisis Eropa.”
Soal pemangkasan rating, dari jauh-jauh hari Sarkozy sudah melakukan segala daya upaya untuk melindungi peringkat Prancis. Sarkozy bahkan pernah berjanji akan melakukan segala upaya untuk mempertahankan peringkat utang pada level teratas. Janji itu ditindaklanjuti dengan mengumumkan kenaikan pajak dan pemotongan pengeluaran pada Agustus dan November. Sekali lagi, tujuannya hanya untuk menyelamatkan rating Prancis.
Setelah downgrade, apakah kebijakan yang harus dibayar dengan air mata masyarakat Prancis itu terlunasi? Sarkozy sepertinya mulai dihantam kritikan tajam soal langkahnya itu.
“Downgrade itu menciptakan sentimen penghinaan,” ujar Jean-Marc Ayrault, pemimpin kelompok parlemen oposisi Partai Sosialis. “Sarkozy kini adalah Presiden yang men-downgrade Prancis.”
Francois Hollande, kandidat presiden dari Partai Sosialis, bahkan mengatakan hal yang lebih keras. “Bukan Prancis yang di-downgrade. Ini adalah [downgrade] kebijakan, strategi, tim, pemerintah, presiden [Sarkozy].”
Bruno Cautres, analis pada Cevipof, pusat penelitian politik di Paris, menilai hari ketika Prancis di-downgrade sebagai hari yang kelabu bagi Sarkozy. “Dia telah kehilangan peringkat AAA yang telah dijanjikan untuk dipertahankan. [Kekuasaan] Sarkozy melemah. Suaranya tidak akan cukup kuat ketika dia mengajak negara lain untuk melakukan upaya-upaya [dalam mengatasi krisis] atau untuk mengikuti dia.”
Semua tudingan itu dibalas. Pemerintah Sarkozy berusaha mengecilkan makna downgrade. “Ini bukan bencana,” ujar Menteri Keuangan Francois Baroin. “[AA+] masih merupakan tingkat yang bagus.
Sarkozy juga mengatakan kehilangan peringkat kredit AAA itu tidak harus diatasi. Dia mengatakan pihaknya akan fokus pada pertumbuhan ketimbang khawatir tentang downgrade perusahaan rating. Prancis, menurut perkiraan kantor statistik nasional Insee, sudah memasuki resesi.
Muncul pertanyaan besar: kalau selama ini dia berkoar-koar untuk mengakhiri krisis utang di kawasannya, mengapa dia tidak berhasil menyelamatkan Prancis hanya dari serangan downgrade lembaga pemeringkat?
Penurunan rating yang sebetulnya telah diperingatkan S&P pada 5 Desember itu sebelumnya diperkirakan menggagalkan obligasi Prancis. Namun, ternyata keuntungan masih berpihak pada Prancis. Terbukti, Prancis berhasil menjual 7,4 miliar euro atau setara dengan US$9,4 miliar surat utangnya dengan imbal hasil yang lebih. (ea) (bersambung)