Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penilaian Presiden ISSA Mengenai Program JKN oleh BPJS Kesehatan

Salah satu contoh yang telah dilakukan BPJS Kesehatan dengan teknologi adalah waktu tunggu antrean yang lebih singkat dengan memanfaatkan sistem antrean online.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti (tengah) dalam paparan kinerja keuangan 2022 pada Selasa (18/7/2023)./Istimewa
Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti (tengah) dalam paparan kinerja keuangan 2022 pada Selasa (18/7/2023)./Istimewa

Bisnis.com, NUSA DUA — International Social Security Association (ISSA) menyebut bahwa inovasi teknologi informasi dan komunikasi atau TIK (Information and Communication Technology/ICT) yang digagas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah mempercepat transformasi layanan kesehatan di tengah masyarakat.

“Mengapa kami datang ke Indonesia? Alasannya sangat sederhana, karena Indonesia sudah maju. Mereka telah bertransformasi dalam hal TIK, dalam hal pemberian jaminan sosial,” kata Presiden ISSA Mohammed Azman di sela-sela konferensi The 17th ISSA International Conference on Information and Communication Technology In Social Security (ICT 2024) 6–8 Maret 2024 di Nusa Dua, Bali, Rabu (6/3/2024).

Menurutnya, transformasi TIK yang dilakukan BPJS Kesehatan sebagai salah satu upaya untuk menyediakan cakupan layanan kesehatan semesta atau universal (universal coverage).

“Indonesia telah bertransformasi, dan menurut saya, Indonesia adalah salah satu pemimpin di bidang TIK [ICT], dalam penyediaan layanan. Pemberian layanan TIK sangat penting dalam hal cakupan jaminan sosial dan pemberian layanan,” ungkapnya.

Selain itu, Azman mengungkap bahwa BPJS Kesehatan berhasil mengurangi waktu penyampaian layanan menjadi sekitar 30 menit dalam memberikan layanan jaminan sosial.

“Dan saya percaya bahwa 72 negara, mayoritasnya adalah negara berkembang, dan kami juga memiliki perwakilan dari kawasan ini. Hal inilah yang perlu kita pelajari dari BPJS Kesehatan,” imbuhnya.

Menurutnya, inovasi dan pemanfaatan TIK seperti ini dibutuhkan dalam jaminan sosial agar menjadi efisien dan memiliki cakupan universal (universal coverage) serta memiliki kesetaraan. “Dan berarti tidak ada seorang pun yang tertinggal,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti menilai bahwa dukungan TIK mutlak diperlukan sebagai enabler, driver, dan accelerator untuk meningkatkan efektivitas program dan kualitas layanan. Hal ini mengingat besarnya cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta tingginya jumlah transaksi, maka diperlukan kecepatan dan ketepatan dalam mendukung program JKN.

“Dengan cakupan pelayanan yang luas dengan banyak pihak atau pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengelolaan program JKN, BPJS Kesehatan telah membangun sistem yang terintegrasi dengan banyak pemangku kepentingan terkait,” ujarnya.

Saat ini, Ghufron mengungkap bahwa sistem BPJS Kesehatan telah terintegrasi dengan lebih dari 950.000 saluran pembayaran, 27.000 fasilitas kesehatan yang terdiri dari 3.000 rumah sakit, 22.000 puskesmas atau dokter keluarga, dan 2.000 apotek, serta lebih dari 100 juta aliran data atau transaksi per hari.

“Melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi, banyak manfaat yang dirasakan peserta Program JKN,” sambungnya.

Ghufron mengatakan bahwa salah satu contoh yang telah dilakukan BPJS Kesehatan adalah waktu tunggu antrean yang lebih singkat dengan memanfaatkan sistem antrean online.

Sebelum menggunakan teknologi, antrean peserta BPJS Kesehatan di fasilitas kesehatan bisa mencapai 8 jam bahkan lebih.

“Kini, dengan diterapkannya antrian online, peserta dapat mengatur waktu tunggu di fasilitas kesehatan menjadi hanya sekitar 2 jam,”

Di samping itu, sambung Ghufron, BPJS Kesehatan juga mengembangkan berbagai inovasi untuk meningkatkan pelayanan peserta di fasilitas kesehatan, mulai dari pemanfaatan teknologi facial recognition dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), antrean elektronik yang terhubung dengan aplikasi Mobile JKN, informasi ketersediaan tempat tidur, informasi jadwal operasi, hingga mempermudah rujukan layanan Hemodialisis dan Thalasemia di rumah sakit.

Ghufron juga menambahkan bahwa BPJS Kesehatan juga telah memanfaatkan AI alam upaya pencegahan penipuan yang dilakukan pada proses verifikasi klaim layanan berbasis digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rika Anggraeni
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper