Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelang RDG BI, Perry Warjiyo Tanggapi Isu Tapering The Fed

Gubernur BI menegaskan pihaknya akan mewaspadai kemungkinan the Fed melakukan tapering pada tahun ini.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8/2020), Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8/2020), Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pihaknya akan terus mencermati kemungkinan Fed melakukan tapering tahun ini.

"Perlu dicermati kemungkinan yang terjadi karena ini akan mempengaruhi aliran modal asing ke Indonesia dan negara emerging market, serta mempengaruhi stabilitas rupiah dan kenaikan yield SBN kita," tegas Perry dalam webinar BPK, Selasa (15/6/2021).

Perry juga menambahkan pihaknya dan Kementerian Keuangan akan selalu berkoordinasi melakukan stabilisasi dan memitigsi dampak pengetatan tersebut.

"Intervensi di pasar valas dan jaga agar kenaikan yield SBN tidak terlalu tinggi."

Bacaan BI sendiri, Fed baru akan mengendurkan kebijakannya pada tahun depan. Namun, perekonomian AS telah bangkit dari hantaman pandemi.

Kepala Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana menegaskan wacana penarikan stimulus yang lebih cepat di negara maju juga perlu direspon cepat oleh otoritas agar tidak memberikan tekanan pada pasar keuangan domestik maupun pada proses pemulihan ekonomi.

“Persiapan normalisasi kebijakan moneter dapat mulai dilakukan dalam internal otoritas agar dapat merespon ketika pemulihan global dan domestik memberikan tekanan pada kondisi di atas,” katanya kepada Bisnis, Selasa (15/6/2021).

Menurutnya, hal ini perlu dipertimbangkan, terlebih di tengah kondisi inflasi global yang mengalami peningkatan, serta arah kebijakan moneter di sejumlah negara berkembang pun mulai memberikan sinyal pengetatan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kekhawatiran soal kenaikan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang secara tidak langsung berdampak pada aliran modal keluar asing atau capital outflow dari Indonesia.

Biasanya, lanjut Sri Mulyani, inflasi AS yang kemudian direspons dengan kebijakan menaikkan suku bunga umumnya berdampak pada capital outflow pada negara berkembang atau emerging market.

“Kita lihat capital outflow di masa pandemi lebih panjang pada periode krisis sebelumnya,” katanya pada rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Senin (14/6/2021).

Sri Mulyani menjelaskan pandemi Covid-19 memberikan efek berkelanjutan. Kondisi saat ini tidak seperti krisis finansial global (global financial crisis) pada 2007-2008. Pasalnya, ketika krisis berakhir, keuangan dunia segera kembali normal.

Pandemi Covid-19 membuat periode capital outflow ke negara berkembang saat ini lebih lama apabila dibandingkan global financial crisis beberapa tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hadijah Alaydrus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper