BISNIS.COM, JAKARTA–Cadangan devisa Indonesia diprediksi akan kembali tergerus pada bulan ini apabila Bank Indonesia tidak menaikan suku bunga acuan guna menekan ekspektasi inflasi maupun memberikan ruang bagi pelonggaran Rupiah.
Ekonom UGM A. Tony Prasetiantono mengatakan bank sentral terlalu mengedepankan kebijakan nilai tukar dibandingkan dengan kebijakan lainnya dalam menekan ekspektasi inflasi maupun arus keluar modal asing.
“Baru sekali ini cadangan devisa turun US$7 miliar dalam satu bulan, hanya karena BI tidak mau mengambil langkah kebijakan lain seperti suku bunga,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (8/7/2013).
Menurutnya, langkah ambisius bank sentral untuk tidak mengubah suku bunga terlalu mahal bagi cadangan devisa Indonesia. Dengan mengandalkan intervensi valuta asing maka menggerus cadangan devisa US$7 miliar dari US$105,1 miliar pada akhir Mei menjadi US$98,1 miliar pada akhir Juni
Padahal, tuturnya, langkah suku bunga sudah harus diambil oleh bank sentral mengingat ekspektasi inflasi sudah meningkat. Pada bulan ini inflasi bulanan diprediksi mencapai 2,38% sehingga laju inflasi tahunan dapat menembus 7,5%.
“Bila BI tetap pelit untuk mengambil langkah suku bunga, BI Rate akan berada di bawah inflasi. Hal ini dapat membuat investor asing untuk meninggalkan portofolio investasi Indonesia dan lebih memilih Dolar,” ujarnya.
Akibatnya, lanjut Tony , Rupiah akan terus tertekan selama beberapa bulan ini sehingga ongkos intervensi bank sentral dalam menjaga kestabilan nilai tukar semakin mahal. “Tentunya hal ini akan membuat cadangan devisa kembali tergerus,” tuturnya.
Dia memproyeksi bank sentral segera akan menaikan BI Rate 25 basis points pada Rapat Dewan Gubernur bulan ini yang digelar pada 11 Juli mendatang. “Tentunya hal itu akan mendorong bunga deposito dan kredit naik. Namun kenaikan masih dapat ditolerir sebagai ongkos krisis,” ujarnya.
Sementara itu, Ekonom Bank Tabungan Negara Agustinus Prasetyantoko menilai bank sentral tidak perlu memaksakan Rupiah di bawah Rp10.000/US$, karena akan menguras cadangan devisa. “Tetap melakukan intervensi seperlunya agar tidak terlalu liar pergerakan nilai tukar,” ujarnya.
BI dinilai beberapa ekonom terlalu kencang untuk melakukan intervensi guna menjaga Rupiah di bawah batas psikologis Rp10.000/US$. Hal tersebut tercermin dari tingkat depresiasi Rupiah lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga dalam kawasan.
Rupiah terdepresiasi 3,01% selama periode Januari-Juni di bawah Peso Philipina yang turun 4,94%, Dolar Singapura 3,97% dan Ringgit Malaysia 3,13%. Sementara itu Yen Jepang anjlok 14% dan Won Korea 7%.